foto ilustrasi
KABAR0SATU,SOPPENG — SMPN 1 Watansoppeng mencatatkan sejarah membaggakan dalam upaya membangun toleransi dan inklusivitas pendidikan.
Sekolah tersebut berhasil menjadi salah satu dari dua sekolah di Indonesia yang dinilai Kementerian Pendidikan sebagai teladan dalam menghargai keberagaman pada tingkat nasional.
Potret Keberagaman di Ruang Kelas
Dari total 611 siswa, SMPN 1 Watansoppeng memiliki keunikan tersendiri. Mayoritas siswa beragama Islam, namun terdapat lebih dari 30 siswa non-muslim yang hidup berdampingan dalam semangat toleransi. Kepala Sekolah Supriyadi Usman, S.Pd., M.Pd. menegaskan bahwa sekolahnya menerapkan konsep multikulturalisme sejati.
“ Sekolah merangkul semua peserta didik tanpa ada sekat perbedaan baik dalam kegiatan intra maupun ekstrakulir misalnya dalam kegiatan pramuka , olahraga dan seni,” ujar Supriyadi
Strategi Membangun Toleransi
Sekolah mengimplementasikan pendekatan komprehensif dalam memelihara kerukunan:
- Kegiatan Intrakurikuler: Pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai keberagaman.
- Kegiatan Kerohanian Inklusif:
- Siswa muslim melaksanakan sholat duha berjamaah setiap Selasa, Rabu, dan Kamis
- Siswa Kristen mengikuti kegiatan kerohanian dengan pendalaman Al Kitab dan puji-pujian
- Ekstrakurikuler Tanpa Sekat: Kegiatan pramuka, olahraga, dan seni yang melibatkan seluruh siswa tanpa membedakan latar belakang.
Dampak Positif
Pendekatan inklusif ini menghasilkan transformasi signifikan:
- Peningkatan kedisiplinan siswa
- Berkurangnya pelanggaran norma
- Tumbuhnya sikap saling menghormati
- Kemampuan siswa untuk hidup berdampingan dalam keberagaman
Pengakuan Nasional
Prestasi SMPN 1 Watansoppeng pada Jambore GTK 2024 membuktikan bahwa pendidikan adalah kunci utama membangun toleransi. Kisah mereka kini dapat disaksikan di kanal YouTube PSKP Kemendikbud, menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan di seluruh Indonesia.
Sekolah ini membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang, melainkan kekayaan yang patut disyukuri dan dihargai.
Hen












