Foto (ist)
MAKASSAR — Hegemoni perebutan kursi Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan mulai memasuki fase yang lebih menarik. Meski Musyawarah Daerah (Musda) baru diwacanakan berlangsung pada Agustus 2026, peta persaingan perlahan mulai terbentuk. Gerak-gerik para figur yang berpotensi bertarung sudah mulai terbaca, baik melalui konsolidasi internal maupun manuver politik yang dilakukan secara senyap.
Salah satu nama yang paling mencuri perhatian adalah Muzakkir Aqil. Legislator DPR RI dari Dapil Sulsel II periode 2024–2029 itu seolah mengirim sinyal kuat bahwa dirinya tidak sekadar ingin menjadi penonton dalam kontestasi kali ini. Penunjukannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPC Demokrat Kota Makassar dinilai bukan sekadar rotasi kepengurusan biasa, melainkan langkah strategis menuju pertarungan yang lebih besar: memperebutkan kursi Ketua DPD Demokrat Sulsel.
Jika benar demikian, maka ini bukan sekadar pertarungan memperebutkan jabatan partai. Ini adalah babak lanjutan rivalitas antara Muzakkir dan Ketua DPD Demokrat Sulsel saat ini, Ni’matullah Erbe.
Publik tentu masih mengingat bagaimana pada Pemilu Legislatif 2024 lalu, Muzakkir berhasil mengungguli Ni’matullah di Dapil Sulsel II dan melenggang ke Senayan. Kini, setelah sukses dalam pertarungan elektoral, peluang untuk kembali berhadapan dengan figur yang sama dalam arena berbeda mulai terbuka.
Mengendalikan DPC Demokrat Makassar memberi keuntungan politik yang tidak kecil. Selain memimpin salah satu basis politik terbesar di Sulsel, posisi tersebut membuka ruang konsolidasi yang lebih intens dengan DPC-DPC kabupaten/kota sebagai pemilik suara dalam Musda. Dalam politik partai, kedekatan dengan struktur sering kali menjadi modal yang sama pentingnya dengan popularitas.
Di sisi lain, posisi Muzakkir sebagai anggota DPR RI juga memberi nilai tawar tersendiri. Jalur komunikasinya dengan DPP Demokrat tentu lebih terbuka dibandingkan sebagian besar kader yang berkiprah di daerah. Faktor ini berpotensi menjadi keuntungan apabila proses penentuan dukungan nantinya juga dipengaruhi oleh dinamika di tingkat pusat. Namun, persaingan tampaknya tidak hanya akan diisi dua nama.
Nama Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, juga mulai masuk dalam radar politik Demokrat. Isu kedekatannya dengan partai berlambang mercy semakin menguat, terlebih setelah absennya pada Musda Golkar dan munculnya sejumlah sinyal komunikasi politik dengan tokoh-tokoh Demokrat. Foto kebersamaannya dengan mantan Ketua Demokrat Makassar, Adi Rasyid Ali (ARA), yang kini menjabat Direktur Utama PD Parkir Makassar, turut memunculkan berbagai spekulasi. Meski belum ada deklarasi resmi dari siapa pun, arah angin politik mulai terasa berubah.
Peluang Muzakkir Mencetak “Double Kill”
Di antara seluruh figur yang beredar, Muzakkir tampaknya memiliki peluang paling realistis untuk menjadi penantang utama Ni’matullah. Modal psikologisnya cukup kuat. Ia pernah mengalahkan Ulla—sapaan Ni’matullah—dalam perebutan kursi DPR RI. Kemenangan tersebut tentu menjadi catatan penting yang tidak bisa diabaikan.
Apabila Muzakkir mampu memperkuat konsolidasi internal serta mengamankan dukungan mayoritas DPC dan restu DPP, bukan tidak mungkin sejarah kembali terulang. Jika itu terjadi, publik mungkin akan menyebutnya sebagai double kill atas Ni’matullah—istilah populer yang menggambarkan kemenangan atas lawan yang sama dalam dua arena politik berbeda. Namun, menyimpulkan pertarungan terlalu dini juga berisiko menyesatkan.
Ni’matullah bukanlah kader baru yang lahir kemarin sore. Hampir satu dekade memimpin Demokrat Sulsel telah membentuk jaringan politik yang kuat, baik di tingkat DPC maupun DPP. Pengalamannya menghadapi dinamika internal partai menjadi modal yang sulit ditandingi.
Sebagai petahana, Ulla tentu memahami bahwa ancaman terbesar bukan datang saat Musda berlangsung, melainkan jauh sebelum forum dimulai. Karena itu, sangat mungkin konsolidasi dan pemetaan kekuatan telah ia lakukan sejak awal, termasuk membaca siapa saja figur yang berpotensi menjadi penantangnya.
Pada akhirnya, Musda Demokrat Sulsel bukan sekadar soal siapa yang paling populer atau paling sering muncul di ruang publik. Politik internal partai selalu memiliki variabel yang lebih kompleks: loyalitas kader, kekuatan jaringan, kemampuan membangun komunikasi, hingga restu elite pusat.
Yang jelas, satu per satu bidak mulai bergerak. Muzakkir telah membuka langkah melalui Demokrat Makassar. Ni’matullah masih berdiri kokoh sebagai petahana. Sementara nama Munafri Arifuddin terus mengundang spekulasi.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah akan ada penantang bagi Ni’matullah. Pertanyaan sesungguhnya adalah: siapa yang paling siap mengakhiri satu dekade kepemimpinannya di Demokrat Sulawesi Selatan?
Penulis: Syariat Tella













