Oleh ; Muhammad Akram
Siswa kelas 7A SRT 64 Soppeng
Editor ; Henrik
— Sekolah Rakyat Terintegritas (SRT) 64 Soppeng menggelar kegiatan open house pada Jumat siang (19/6/20260. Salah satu momen yang paling membekas dalam acara itu datang dari seorang siswa kelas 7A Muhammad Akram yang membagikan kisah hidupnya di hadapan para tamu undangan.
Cerita yang disampaikan Akram bukan sekadar sambutan seremonial. Ia berbicara tentang dirinya, keluarganya, dan bagian paling berat yang ia jalani selama menempuh pendidikan di sekolah itu. Tidak sedikit di antara hadirin yang akhirnya tak kuasa menahan air mata.
Akram membuka ceritanya dengan meluruskan sebuah anggapan yang selama ini melekat pada sekolah tempatnya belajar.
“Banyak yang mengira Sekolah Rakyat adalah tempat yang menyedihkan karena kami berasal dari keluarga pra-sejahtera. Padahal tidak,” katanya.
Ia menjelaskan, sekolahnya justru sangat modern. Asrama bersih, ruang kelas nyaman, bahkan setiap siswa difasilitasi laptop untuk belajar secara digital. Makan disediakan tiga kali sehari, dan layanan kesehatan pun gratis.
“Pemerintah sangat peduli kepada kami. Jadi kesedihan saya bukan karena tempat ini,” ujarnya. “Kesedihan saya berasal dari hati, dari ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh secanggih apa pun fasilitas.”
Akram lalu mengisahkan hari ketika ia pertama kali diantar ke sekolah ini. Bukan ayah, bukan pula ibunya yang mengantar, melainkan kakaknya.
Ia masih ingat betul pelukan itu. Lama, di depan pintu gerbang. Tangan kakaknya kasar dan penuh kapalan, bekas kerja serabutan yang dilakukannya setiap hari untuk membantu sang ibu.
“Belajar yang pintar ya, Dek. Jangan pikirkan apa-apa. Di rumah, Ibu dan adik pasti baik-baik saja,” kata kakaknya waktu itu.
Akram mengangguk. Namun di dalam hatinya, ia merasa lemas. Ia tahu betul siapa saja yang tinggal di rumah itu: ibunya, kakaknya, dan adiknya yang masih kecil. Dan yang paling menyakitkan, ia tidak punya siapa pun untuk membayangkan sosok pelindung dalam keluarganya.
Akram belum pernah bertemu ayahnya. Dalam ingatannya, sosok itu kosong sama sekali. Menurut cerita kakaknya, ayah mereka pergi saat Akram masih bayi dan tak pernah kembali. Entah ke mana. Entah masih hidup atau sudah tiada.
Di dinding rumah mereka, tidak ada satu pun foto yang menyimpan wajahnya. Di hati ibunya, ada luka yang tak pernah ia tunjukkan kepada anak-anaknya. Maka Akram pun menunggu, tanpa pernah benar-benar tahu rupa laki-laki pertama dalam hidupnya.
Yang tersisa di rumah hanyalah ibunya, perempuan yang ia gambarkan sebagai sosok luar biasa, bekerja dari subuh hingga malam, mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan untuk menyambung hidup keluarganya. Kakaknya bahkan mengorbankan kuliahnya demi membantu sang ibu dan menjaga adik bungsu mereka yang sering sakit, yang kadang menangis minta susu yang tak selalu tersedia.
“Rumah kami sunyi,” kata Akram. “Sunyi dari seorang ayah, sunyi dari kecukupan, sunyi dari tawa yang lepas.”
Bagi Akram, luka yang paling dalam bukan hanya soal ketiadaan, tetapi soal komunikasi yang nyaris putus. Sekolahnya memiliki laptop dan akses internet. Seharusnya ia bisa menelepon keluarganya kapan saja. Namun kenyataannya tidak semudah itu.
Ponsel keluarganya sering mati. Pulsa tidak selalu terisi. Setiap kali Akram mencoba menelepon, yang ia dapati hanya nada sibuk atau panggilan yang tidak aktif. Sesekali, jika ada sedikit rezeki lebih, kakaknya akan menelepon lewat telepon warung, atau menitipkan kabar melalui guru.
Pesannya hampir selalu sama: kami baik-baik saja, jangan pikirkan, jangan khawatir, belajar yang rajin. Pendek sekali, tidak sampai dua menit, lalu telepon terputus.
Pada malam hari, Akram sering duduk di asrama menatap kasur dengan pandangan kosong, membayangkan wajah ibu dan adiknya. Saat teman-teman lain dikunjungi orang tua mereka, ia hanya bisa memandangi dari jauh, dengan mata berkaca-kaca. Rasa rindu itu memuncak tanpa pernah punya saluran untuk tersalurkan.
Suatu kali, ketika rasa itu tak lagi tertahan, Akram menangis di dalam kelas. Seorang guru menemukannya dan bertanya, “Kenapa, Nak?”
“Saya rindu Ibu, Pak,” jawabnya tercekat. “Tapi saya bahkan tidak bisa mendengar suaranya.”

Guru itu terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Akram, di rumah, ibumu juga merindukanmu dengan cara yang sama. Bedanya, dia tidak punya kesempatan untuk sekadar melihat fotomu. Maka simpanlah rindumu baik-baik.”
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Akram. Ia mulai menyadari bahwa ibunya telah mengorbankan kehadirannya sendiri agar Akram bisa berada di tempat ini, tempat dengan laptop, ruang kelas yang nyaman, dan masa depan yang lebih baik. Kakaknya pun telah mengorbankan masa mudanya untuk hal yang sama.
“Maka saya mulai belajar sungguh-sungguh. Bukan karena dipaksa, tapi karena saya ingin setiap tetes keringat mereka menjadi berarti,” katanya.
Setiap kali rasa rindu itu datang, Akram memilih untuk mengetikkan kisahnya di laptop, seolah-olah ia sedang berbicara langsung dengan keluarganya. Ia memanfaatkan setiap fasilitas yang ada sebaik mungkin, karena ia tahu, di rumah, ibunya hanya bisa berdoa dan terus bekerja tanpa lelah.
Menjelang akhir ceritanya, Akram menyampaikan pesan kepada teman-temannya yang mungkin mengalami hal serupa.
“Kalau kalian merasa sendiri karena jarang berkomunikasi dengan keluarga, percayalah, mereka tidak memberi kabar bukan karena tidak peduli. Mereka hanya terbatas oleh waktu, jarak, dan biaya. Tapi cinta mereka tidak terbatas. Cinta itu hadir di setiap helaan napas kita,” ujarnya.
Akram mengaku mungkin tidak akan pernah bertemu ayahnya. Namun ia percaya, jika sosok itu ada, ia pasti ingin melihat Akram menjadi pribadi yang lebih baik. Baginya, ibu, adik, dan kakaknya adalah alasan ia bertahan sampai hari ini.
“Saya ingin membahagiakan mereka. Buat apa mengingat masa lalu, kalau masa depan sedang menunggu kita,” katanya. “Di Sekolah Rakyat ini, saya tidak akan membiarkan masa lalu mencuri masa depan saya. Di sinilah saya menemukan jalan. Jalan yang mungkin terjal, tapi menjanjikan terang.”
Di penghujung kisahnya, Akram mengajak teman-temannya untuk menggenggam kesempatan yang ada. Ruang kelas yang nyaman, guru yang peduli, semuanya ia sebut sebagai titipan harapan dari keluarga yang menahan rindu di rumah.
“Semoga Allah memudahkan kita, dan kelak kita pulang membawa kebanggaan yang mengubah air mata mereka menjadi senyum,” tutupnya.
**












