Opini

Mimpi Besar Selle Agar Petani Soppeng Tak Kehilangan Ratusan Miliar Rupiah Setiap Tahun

×

Mimpi Besar Selle Agar Petani Soppeng Tak Kehilangan Ratusan Miliar Rupiah Setiap Tahun

Sebarkan artikel ini

Wakil Bupati Soppeng Ir Selle Ks Dalle (foto ono )

SOPPENG — Kabupaten Soppeng terus berinovasi menjadi salah satu wilayah sentra utama komoditas pertanian di Sulawesi Selatan (Sulsel). Beragam program terus digenjot untuk memaksimalkan hasil pertanian, khususnya padi, kakao, jagung, dan sutera alam.



Wilayah berjuluk Bumi Latemmamala ini bahkan menjadi salah satu daerah penghasil padi penting di Sulawesi Selatan. Dukungan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk meningkatkan hasil panen petani melalui sistem budidaya padi modern terus didorong. Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan kondisi cuaca ekstrem dan kekeringan yang dapat berdampak pada ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Kondisi tersebut sudah jauh hari menjadi perhatian Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle.

Selle memikirkan dampak musim kering berkepanjangan terhadap saluran irigasi yang berpotensi mengering dan pada akhirnya berdampak langsung terhadap petani di Soppeng.

Sejak awal, Selle terus mengkaji sekaligus mengantisipasi persoalan tersebut dengan menggencarkan gagasan program listrik masuk sawah.

Menurutnya, keberadaan jaringan listrik dapat menjadi salah satu instrumen penting bagi petani untuk mengoperasikan mesin pompa air, khususnya ketika sumber air permukaan dan saluran irigasi mengalami penurunan debit.

Namun, mewujudkan program tersebut tidak semudah membalik telapak tangan.

Kolaborasi antarinstitusi sangat diperlukan. Dukungan Kementan dan Pemkab Soppeng dalam menyediakan sarana air melalui pembangunan sumur bor akan sulit dimaksimalkan apabila jaringan listrik belum menjangkau titik-titik lahan pertanian yang tersebar di wilayah Soppeng.

“Ada anggaran sudah disiapkan buat sumur bor, tapi belum cukup anggaran untuk bentangkan kabel. Anggaran PLN cuma bisa sampai 50 meter, dan maksimal 200 meter untuk beberapa sawah. Tapi itu belum cukup sehingga harus ajukan anggaran khusus dan itu perlu waktu,” kata Selle saat ditemui di Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Bupati Soppeng, Kamis (20/8/2026).

Petani Soppeng Berpotensi Kehilangan Ratusan Miliar

Selle jelas gusar. Mimpi besarnya agar para petani di Soppeng mampu memaksimalkan hasil panen di setiap musim belum sepenuhnya dapat diwujudkan.

Bagi Selle, persoalan air bukan sekadar masalah teknis pertanian. Di balik setiap hektare sawah terdapat pendapatan keluarga petani dan perputaran ekonomi masyarakat yang ikut dipertaruhkan.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama perekonomian Soppeng dan memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.

Soppeng juga dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi di Sulawesi Selatan, dengan produksi yang dalam beberapa tahun berada pada kisaran ratusan ribu ton per tahun.

Namun, di tengah potensi tersebut, terdapat persoalan yang ingin ditekan Selle: kehilangan hasil produksi akibat gangguan cuaca, terutama ketika ketersediaan air tidak mampu menopang kebutuhan lahan pertanian.

Selle menyebut, berdasarkan kajian yang dilakukannya, akumulasi kehilangan gabah akibat dampak musim ekstrem dapat mencapai sekitar 32.000 ton per tahun.

Jika angka tersebut dihitung menggunakan asumsi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, maka potensi nilai ekonomi yang hilang mencapai sekitar:

32.000 ton × 1.000 kg × Rp6.500 = Rp208 miliar.

Artinya, dengan menggunakan asumsi tersebut, potensi kehilangan nilai ekonomi hasil panen dapat mencapai lebih dari Rp200 miliar dalam setahun.

“Lebih Rp200 miliar petani Soppeng kehilangan uang setiap tahun,” kata eks legislator DPRD Sulsel tersebut.

Angka itu bukan sekadar hitungan di atas kertas bagi Selle. Ia melihat persoalan tersebut sebagai pekerjaan besar yang membutuhkan solusi bersama.

Listrik Masuk Sawah dan Harapan Petani

Selle memahami, persoalan ini bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah daerah. Dibutuhkan dukungan lintas institusi, mulai dari Pemkab Soppeng, Pemprov Sulsel, kementerian/lembaga, hingga pihak terkait lainnya.

Wakil Ketua DPD Demokrat Sulsel itu mengaku telah menyampaikan gagasan tersebut kepada Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, jajaran PLN, hingga legislator DPR RI, dengan harapan program listrik masuk sawah dapat memperoleh dukungan yang lebih luas.

Bagi Selle, program tersebut bukan sekadar memasang tiang dan menarik kabel listrik ke areal persawahan. Ada persoalan anggaran, jarak jaringan, titik sumur bor, hingga kebutuhan energi yang harus dihitung secara matang.

Di sisi lain, efisiensi anggaran dan berbagai kebijakan pemerintah pusat membuat proses mewujudkan program tersebut membutuhkan waktu.

Selle pun harus bersabar.

Namun, ia tidak ingin berhenti hanya pada gagasan.

Ia memilih mengamati langsung kebutuhan petani di lapangan, mengkaji persoalan yang muncul, kemudian mencari ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Pengalamannya yang telah malang melintang di legislatif hingga eksekutif membuatnya memahami bahwa tidak semua rencana besar dapat diwujudkan dalam waktu singkat.

Tetapi bagi Selle, langkah besar selalu berawal dari keberanian untuk memulai.

Mimpi itu sederhana: petani Soppeng tidak lagi kehilangan potensi hasil panen hanya karena air tidak tersedia saat sawah membutuhkannya.

Jika gagasan listrik masuk sawah, sumur bor, dan sistem pengelolaan air dapat terintegrasi dengan baik, bukan tidak mungkin Soppeng menjadi salah satu daerah percontohan dalam menghadapi ancaman kekeringan di sektor pertanian.

Sebab, di balik upaya menyelamatkan puluhan ribu ton gabah, ada harapan untuk menyelamatkan ratusan miliar rupiah potensi pendapatan petani setiap tahunnya.

Dan bagi Selle, perjuangan itu bukan sekadar soal angka.

Ini tentang bagaimana memastikan petani di tanah kelahirannya dapat menikmati hasil kerja keras mereka dengan lebih baik.

Penulis: Syariat Tella



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page