foto (ist)
KABAR-SATU, TORAJA UTARA —Universitas Gadjah Mada (UGM) memaparkan hasil kajian empat bulan program penguatan Kawasan Transmigrasi Rante Karua dalam Forum Group Discussion (FGD) yang digelar di Aula Perpustakaan Rantepao. Rabu kemarin. Program tersebut menjadi bagian penting dari upaya Pemerintah Kabupaten Toraja Utara dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem melalui penyelenggaraan transmigrasi lokal.
Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong mengatakan, transmigrasi lokal memberikan peluang bagi masyarakat yang tidak memiliki akses maupun aset akibat kemiskinan struktural.
Dikatakanya, program ini telah mendapat dukungan dari Wakil Menteri Transmigrasi dan pemerintah daerah kini diminta menyiapkan proposal komprehensif sebagai tindak lanjut.
“Tujuan kita bukan memaksa atau mengubah tatanan sosial budaya masyarakat, tetapi justru melepaskan mereka dari kemiskinan yang telah membelenggu secara turun-temurun, sekaligus membuka akses terhadap peluang baru,” ujar Bupati Frederik.
Frederik menjelaskan, beberapa daerah di Toraja Utara masih sulit dijangkau, sehingga relokasi melalui transmigrasi lokal menjadi alternatif strategis.
“Tahun ini beberapa akses jalan sudah mulai diperbaiki, dan kawasan kini terbagi dalam satuan permukiman SP1 hingga SP5.”ujarnya.
Ia menyebut, potensi perkebunan di wilayah Rante Karua juga mendapat perhatian khusus. Tahun depan akan ada dukungan berupa pembangunan pabrik kopi, sehingga produksi masyarakat harus ditingkatkan sebagai bentuk kesiapan menghadapi peluang industri.
Bondan menyampaikan bahwa dukungan masyarakat dan pemerintah daerah sangat luar biasa selama proses kajian. “Hal ini memungkinkan kami menyusun rekomendasi berbasis data yang lebih komprehensif dan sesuai kondisi lapangan,” katanya.
Tim Patriot UGM Output 1 yang dipimpin Bondan Galih Dewanto menemukan ketidakberhasilan penguatan kawasan transmigrasi selama ini berakar pada persoalan institusional, terutama minimnya koordinasi lintas sektor, kegagalan keberlanjutan program pemerintah, serta tidak aktifnya lembaga ekonomi lokal seperti koperasi, BUMLem, dan kelompok tani.
Menurut Bondan, selama hampir empat bulan tim melakukan survei lapangan di Lembang Awan, Batu Lotong, Buntu Karua, Rindingallo, hingga Baruppu’. Tim juga melakukan mapping kawasan termasuk analisis konektivitas, kondisi jalan, hingga fasilitas layanan seperti puskesmas.
Bondan menyampaikan, dukungan masyarakat dan pemerintah daerah sangat luar biasa selama proses kajian.
“Hal ini memungkinkan kami menyusun rekomendasi berbasis data yang lebih komprehensif dan sesuai kondisi lapangan,” katanya.
UGM menyatakan kesiapan untuk melanjutkan kolaborasi dengan pemerintah daerah melalui kajian teknis, pendampingan, dan penguatan kapasitas daerah jika terdapat peluang kerja sama di masa depan.
**
















