Pendidikan

Pangkas Waktu dan Tenaga Petani UNM Terapkan Alat Tanam Padi Sistem Tabur 

×

Pangkas Waktu dan Tenaga Petani UNM Terapkan Alat Tanam Padi Sistem Tabur 

Sebarkan artikel ini

Foto (dok)

KABAR-SATU, SOPPENG — Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM) menerapkan teknologi tepat guna  alat tanam padi sistem tabur menggunakan roda kepada Kelompok Tani Temangingi’E di Madining, Kelurahan Attang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng belum lama ini



Inovasi tersebut ditujukan untuk memangkas waktu tanam, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, sekaligus meningkatkan efisiensi proses produksi pertanian.

Kegiatan Pemberdayaan Berbasis Masyarakat bidang pangan. Program ini diketuai Dr. Drs. Sudiadharma, M.Kes., bersama anggota tim Dr. Ir. Edy Sabara, M.Si., IPM., dan Dr. Ir. Rahmansah, S.Pd., S.T., M.T., IPM. 

Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Suci Ramdana dan Imelda Damayanti. Sementara Kelompok Tani Temangingi’E yang diketuai Suherman menjadi mitra kegiatan dengan dukungan Kepala Kelurahan Attang Salo.

Ketua tim PKM UNM, Dr. Drs. Sudiadharma, M.Kes mengatakan, program tersebut berangkat dari kondisi petani yang masih melakukan penanaman padi secara manual dengan mengandalkan tenaga manusia.

 Metode tersebut dinilai membutuhkan waktu relatif lama dan tenaga kerja cukup besar, terutama saat musim tanam berlangsung secara serentak.

“Penanaman padi secara manual pada lahan sekitar satu hektare membutuhkan rata-rata dua sampai tiga hari dengan melibatkan delapan sampai 10 orang tenaga kerja. Biaya tenaga kerja untuk proses penanaman mencapai sekitar Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta per musim tanam,” kata Sudiadharma, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, persoalan lainnya terdapat pada sebaran benih yang dilakukan secara manual. Pada sebagian area, penyebaran benih belum merata sehingga berpotensi memengaruhi keseragaman pertumbuhan tanaman. 

Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan persoalan yang dihadapi petani tidak hanya berkaitan dengan teknis penanaman, tetapi juga efisiensi pengelolaan proses produksi.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim PKM UNM menghadirkan alat tanam padi sistem tabur menggunakan roda. Alat tersebut dirancang sederhana dengan mekanisme manual melalui sistem dorong atau tarik sehingga dapat digunakan untuk membantu proses penaburan benih secara lebih cepat dan merata sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual.

“Alat ini ditujukan untuk membantu proses penaburan benih secara lebih cepat dan merata serta mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual,” jelasnya.

Penerapan teknologi tersebut memiliki target yang terukur. Tim pengabdian menargetkan waktu tanam dapat berkurang minimal 40 persen dibandingkan metode manual.

Sementara kebutuhan tenaga kerja diharapkan turun dari delapan hingga 10 orang menjadi sekitar empat sampai lima orang per hektare.

Sudiadharma menegaskan, penerapan teknologi dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan langsung anggota Kelompok Tani Temangingi’E. Petani tidak hanya ditempatkan sebagai penerima teknologi, tetapi juga mengikuti pelatihan, praktik penggunaan alat, pendampingan hingga evaluasi kegiatan.

“Penerapan alat tanam padi sistem tabur menggunakan roda semoga memberikan manfaat bagi Kelompok Tani Temangingi’E, terutama dalam mengurangi waktu tanam, menghemat tenaga kerja, dan meningkatkan efisiensi proses produksi,” tambahnya.

Hen/Adr



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page