foto (dok)
KABAR-SATU, SOPPENG — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar memperkenalkan alat tanam biji padi sistem tabur (tabela Red) kepada Kelompok Tani Mario Pulana di Tonrong Laitti, Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas persoalan klasik yang dihadapi petani setempat, di mana proses tanam manual yang menyita banyak waktu dan tenaga kerja di lahan sawah tadah hujan.
Kegiatan yang bertajuk “penerapan alat tanam biji padi sistim tabur yang efisien waktu dan tenaga untuk persawahan tadah hujan pada kelompok tani mario pulana” ini dipimpin oleh Dra. Nurfaizah AP, M.Hum., bersama dua anggota tim, Prof. Rosmini Maru, S.Pd., M.Si., Ph.D., dan Ayla Ainayyah M, S.TP., M.T.P. Tiga mahasiswa turut dilibatkan, yakni Nurezky Amalia, Ibulaeng, dan Muh Qufron.
Menurut Nurfaizah, akar masalah bermula dari cara bertani yang masih konvensional. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petani dalam meningkatkan efisiensi usaha tani. Proses penanaman yang membutuhkan banyak tenaga kerja juga dapat meningkatkan biaya produksi.
Menurut Nurfaizah , persoalan itu membutuhkan jawaban berupa teknologi sederhana yang cocok dengan kondisi lahan warga sekaligus mudah dirawat secara swadaya oleh kelompok tani.
Kata dia, alat tabela dirancang dengan konstruksi yang relatif ringkas, sebuah rangka utama, tabung penampung benih, dan mekanisme pengatur pengeluaran benih. Cara kerjanya, benih dimasukkan ke wadah, lalu keluar secara bertahap lewat pengatur saat alat didorong atau ditarik di atas lahan.
Sebelum turun ke sawah, tim memberikan pemaparan tentang komponen alat, fungsi tiap bagiannya, teknik pengisian benih, hingga cara pengoperasian. Warga kemudian diberi kesempatan mencoba langsung sebelum alat dibawa ke lokasi persawahan untuk uji coba lapangan.
Uji coba tersebut sekaligus menjadi ajang evaluasi bersama. Tim dan petani mengamati kelancaran keluarnya benih, tingkat kemudahan pengoperasian, serta kecocokan alat dengan karakteristik lahan setempat. Temuan dari pengamatan ini akan menjadi pijakan untuk penyempurnaan.
Ia menyebut,program tidak berhenti pada penyerahan alat. Kelompok Tani Mario Pulana juga dibekali pelatihan perakitan serta manajemen usaha tani, mencakup pengelolaan tenaga kerja, waktu, benih, hingga pembiayaan. Pendekatan ini dimaksudkan agar petani mampu merawat dan memperbaiki alat secara mandiri di kemudian hari, bukan sekadar bergantung pada bantuan teknis dari luar.
Nurfaizah menjelaskan, keunggulan alat tabur ini terletak pada keteraturan proses penaburan dibanding cara manual yang cenderung tidak merata. Sejumlah manfaat pun diproyeksikan, mulai dari berkurangnya beban kerja, percepatan waktu tanam, hingga pemakaian benih yang lebih terukur.
Meski demikian, dampak kuantitatif dari penerapan alat ini seperti besaran penghematan tenaga kerja atau efisiensi benih masih dalam tahap pengukuran dan pemantapan.
“Teknologi yang diterapkan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan alat, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan efisiensi kegiatan usaha tani kelompok,” pungkas Nurfaizah.ujarnya, Jumat (11/9/2026).
Hen/Ay
































