Pendidikan

PKM UNM Ubah Limbah Lontar Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi

×

PKM UNM Ubah Limbah Lontar Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi

Sebarkan artikel ini

foto (dok)

KABAR-SATU, GOWA —  Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) memberdayakan Kelompok Ibu-ibu PKK Kale Salajo di Desa Salajo, Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, dengan memanfaatkan serat pelepah lontar sebagai bahan baku pembuatan songko recca, khas Sulawesi Selatan.



Kegiatan bertajuk “pemanfaatan serat pelepah lontar menjadi songko recca bagi Ibu PKK di Desa Salajo” ini merupakan program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2026 yang diketuai Prof. Dr. Ir. H. Bakhrani A Rauf, M.T., IPU., ASEAN Eng., beranggotakan Ir. Akmal Baharuddin, S.Pd., S.T., M.T., serta melibatkan dua mahasiswa, Nur Aina Rasyfa dan Shakira Yus Marini.

Bakhrani mengatakan, pemanfaatan pelepah lontar yang selama ini kurang termanfaatkan diharapkan mampu membuka peluang pengembangan produk kerajinan bernilai estetika sekaligus ekonomi bagi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, tim pengabdi memperkenalkan kepada masyarakat teknik pengolahan serat pelepah lontar untuk menghasilkan produk songko recca dengan berbagai bentuk, motif, dan variasi finishing,” ujarnya, Kamis (10/9/2026).

Ia menjelaskan, pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi, demonstrasi, diskusi, dan praktik langsung. Peserta dibekali pengetahuan mulai dari pengolahan bahan, pembuatan desain, penggunaan acuan atau cetakan, teknik penganyaman, pewarnaan, hingga tahap finishing dengan pendekatan learning by doing.

“Pendekatan learning by doing digunakan agar peserta dapat melihat secara langsung proses pembuatan produk dan memahami teknik yang diberikan melalui praktik,” tuturnya.

Selain keterampilan produksi, tim pengabdi juga memperkenalkan teknologi sederhana seperti acuan atau cetakan untuk menyeragamkan bentuk songko, serta peralatan finishing berupa kompresor dan alat dico guna meningkatkan kerapian dan kualitas produk.

Bakhrani menegaskan, keterlibatan aktif mitra menjadi kunci keberlanjutan program.

“Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam kegiatan ini karena tujuan program bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun keterampilan yang dapat diterapkan dan dikembangkan oleh kelompok secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Ke depan, pengembangan produk tidak hanya diarahkan pada songko recca, tetapi juga membuka peluang variasi desain dan produk turunan lain sesuai kreativitas anggota serta kebutuhan pasar.

“Kami berharap mitra mampu melakukan pengembangan produk, menentukan harga, melakukan pengemasan yang lebih baik, serta memperkenalkan produk kepada konsumen melalui pemasaran secara langsung maupun melalui media digital sederhana,” tutupnya.

Hen/Ay



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page