Pendidikan

Inovasi Dosen UNM Permudah Peternak Ayam di Soppeng

×

Inovasi Dosen UNM Permudah Peternak Ayam di Soppeng

Sebarkan artikel ini

foto (dok)

KABAR-SATU, SOPPENG —   Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) menerapkan teknologi tepat guna berupa mesin pencabut bulu ayam bagi Kelompok Peternak Ayam Awakaluku di Kampung Awakaluku, Desa Laringgi, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, baru-baru ini. Penerapan teknologi tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026 bertajuk “penerapan mesin pencabut bulu ayam yang praktis meningkatkan pendapatan pemelihara ayam pedaging”.



Kegiatan ini diketuai Dr. Ir. H. Faizal Amir, M.Pd., dengan anggota tim Dr. Mihrani, S.Pt., M.P., dan Dr. St. Aisyah, M.Pd., serta melibatkan tiga mahasiswa, yakni Muh. Fuad Rifai, Ahmad Agung Ahkam, dan Nur Ilmi.

Ketua tim pengabdian, Faizal Ami Kamis (10/9/2026) mengatakan, penerapan mesin tersebut dilatarbelakangi kendala yang selama ini dihadapi peternak dalam proses pencabutan bulu ayam secara manual yang membutuhkan tenaga dan waktu cukup besar.

Kondisi itu, kata dia, menjadi salah satu penghambat peningkatan kapasitas pengolahan ayam bagi peternak yang ingin mengembangkan usahanya.

“Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan kelompok peternak ayam awakaluku sejak tahap persiapan hingga penerapan teknologi. Tahapan kegiatan diawali dengan koordinasi tim, survei awal, sosialisasi, dan finalisasi desain teknologi tepat guna,” ujar Faizal.

Ia menjelaskan, mesin yang diterapkan menggunakan sistem pemutar pada tabung pencabut yang dilengkapi jari-jari karet pencabut bulu dan digerakkan oleh mesin penggerak. Teknologi tersebut dirancang untuk mempercepat proses pencabutan bulu ayam agar pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat berjalan lebih praktis dan efisien.

Selain penerapan alat, tim pengabdi juga memberikan pelatihan kepada mitra yang meliputi pengenalan alat serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3), praktik penggunaan mesin, perawatan dan penanganan gangguan ringan (troubleshooting), hingga pendampingan proses produksi.

Anggota kelompok peternak diberi kesempatan untuk mencoba langsung mengoperasikan mesin, memahami fungsi tiap bagian alat, serta mempelajari langkah-langkah perawatannya.

Menurut Faizal, kehadiran mesin pencabut bulu ayam ini memberikan alternatif teknologi yang lebih praktis bagi kelompok peternak ayam awakaluku dalam menangani proses pascapanen ayam.

“Dengan adanya mesin tersebut, proses pencabutan bulu dapat dilakukan secara lebih terarah, mengurangi ketergantungan terhadap tenaga manual, dan mendukung peningkatan kapasitas pengolahan,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan keterampilan mitra dalam pengoperasian, perawatan, dan penanganan gangguan ringan pada mesin menjadi bagian penting agar teknologi tersebut tidak hanya digunakan selama kegiatan berlangsung, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk menunjang usaha peternakan.

“Tim pengabdian berharap penerapan mesin pencabut bulu ayam tidak berhenti pada kegiatan serah terima teknologi, tetapi dapat terus dimanfaatkan oleh kelompok peternak dalam kegiatan usaha sehari-hari,” pungkas Faizal.

Ia menyebutkan, keberlanjutan program ke depan diarahkan pada kemampuan mitra dalam mengoperasikan dan merawat mesin secara mandiri, meningkatkan efisiensi proses pengolahan ayam, serta mengembangkan usaha secara bertahap. Tim pengabdian turut melakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat pemanfaatan teknologi dan dampaknya terhadap kegiatan usaha mitra.

Hen/Ay



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page