Melihat Lagi Prestasi Rahmat Abdullah
Nama Rahmat Erwin Abdullah bukan lagi sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi pecinta olahraga angkat besi.
Putra legenda angkat besi Indonesia, Erwin Abdullah, itu telah menjelma menjadi salah satu lifter paling berprestasi yang pernah dimiliki Indonesia. Ia bukan hanya langganan podium, tetapi juga pencetak rekor dunia yang terus memperbarui catatan atas namanya sendiri.
Dari Kejuaraan Dunia, Olimpiade, Asian Games, SEA Games, PON hingga berbagai kejuaraan junior, nama Rahmat hampir selalu hadir di antara para peraih medali.
Pada debut Olimpiadenya di Tokyo 2020, misalnya, Rahmat yang turun di kelas 73 kilogram mencatat total angkatan 342 kilogram dan membawa pulang medali perunggu untuk Indonesia.
Di Asian Games Hangzhou 2022 yang digelar pada 2023, ia kemudian meraih emas. Dan kini, di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 Jepang, Rahmat kembali membuat sejarah: meraih emas kelas 75 kilogram sekaligus memecahkan rekor dunia dengan total angkatan 366 kilogram dan clean and jerk 206 kilogram.
Daftar pencapaian itu membuat julukan “manusia rekor” terasa bukan sekadar metafora.
Ia adalah putra lokal Makassar yang tumbuh dari Sulawesi Selatan, kemudian melampaui batas daerahnya dan membawa nama Indonesia ke panggung olahraga dunia.
Namun, di balik deretan medali emas dan rekor dunia itu, ada sebuah cerita lain yang tidak kalah menarik.
Cerita tentang seorang juara dunia yang pernah merasa harus berjuang mencari tempat latihan yang layak di daerah asalnya sendiri.
Pencetak Rekor yang “Terkapar” di Daerahnya
Menjadi atlet berprestasi ternyata tidak selalu berarti mendapatkan fasilitas terbaik.
Perjalanan Rahmat memberikan gambaran tentang paradoks tersebut.
Pada 2024, sang ayah sekaligus pelatih, Erwin Abdullah, pernah menyampaikan protes keras mengenai pembinaan Rahmat di Sulawesi Selatan. Erwin menegaskan bahwa persoalannya bukan semata-mata bonus, melainkan pembinaan berkelanjutan: perlengkapan latihan, nutrisi, jaminan kesehatan, serta tempat latihan yang layak.
Erwin bahkan mengaku harus mengeluarkan biaya pribadi untuk sejumlah kebutuhan latihan.
Keluhan itu kemudian mendapat tanggapan dari pemerintah daerah dan KONI Sulsel. Pihak pemerintah menyatakan bahwa fasilitas seperti GOR Sudiang dan Stadion Barombong dapat digunakan, sementara KONI Sulsel menyebut telah menyediakan ruang latihan dengan sejumlah peralatan. Dengan demikian, persoalannya bukan tanpa respons, tetapi terdapat perbedaan pandangan antara kebutuhan pembinaan yang dirasakan Erwin-Rahmat dan fasilitas yang menurut pemerintah tersedia.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Sebab, seorang atlet yang telah mengharumkan nama daerah dan negara ternyata masih harus memperjuangkan hal yang paling mendasar bagi seorang atlet: tempat untuk berlatih.
Rahmat memang tetap berprestasi.
Tetapi prestasi itu tidak boleh membuat kita lupa bertanya: berapa banyak potensi atlet lain yang mungkin berhenti di tengah jalan karena tidak memiliki fasilitas, biaya, pelatih, nutrisi, atau dukungan yang memadai?
Pada akhirnya, Rahmat dan Erwin benar-benar mengambil keputusan untuk mencari daerah lain.
Pada Oktober 2025, Rahmat secara resmi mengajukan mutasi dari Sulawesi Selatan dan kemudian membela Jawa Timur. Dalam keterangannya, alasan yang disampaikan adalah keinginan untuk berkembang, meningkatkan prestasi, serta memperoleh masa depan karier yang lebih baik.
Sebuah keputusan yang mungkin terasa pahit bagi daerah asal.
Namun bagi seorang atlet, karier memiliki batas waktu.
Prestasi tidak bisa menunggu.
Mengubah Besi Berkarat Menjadi Emas
Ini memang sebuah metafora.
Namun metafora itu memiliki cerita nyata di belakangnya.
Dalam sejumlah laporan mengenai perjalanan Rahmat, tempat latihan keluarga ini digambarkan serba terbatas. Bahkan, ibunya, Ami Asun Budiono, pernah menceritakan bagaimana peralatan latihan yang digunakan Rahmat banyak yang sudah tua dan mulai berkarat. Sebagian peralatan tersebut bahkan merupakan perlengkapan yang dahulu digunakan ayahnya ketika masih menjadi atlet.
Di tempat seperti itulah Rahmat ditempa.
Bukan di fasilitas olahraga mewah.
Bukan pula dengan segala kemudahan yang mungkin dibayangkan orang ketika melihat seorang juara dunia berdiri di podium.
Tetapi dari besi yang tua, keterbatasan, keringat, disiplin dan kemauan untuk terus berlatih.
Besi boleh berkarat.
Tetapi semangat tidak boleh ikut berkarat.
Itulah mungkin gambaran paling sederhana tentang Rahmat.
Besi yang diangkatnya setiap hari mungkin tidak selalu baru. Tetapi dari besi itulah lahir medali emas.
Dari keterbatasan lahir rekor.
Dan dari ruang latihan yang sederhana lahir seorang atlet yang kemudian berdiri di panggung dunia.
Namun tentu saja, keberhasilan Rahmat tidak boleh dijadikan pembenaran bahwa fasilitas buruk tidak menjadi masalah.
Justru sebaliknya.
Rahmat adalah bukti bahwa bakat yang luar biasa mampu bertahan dalam keterbatasan. Tetapi sistem pembinaan yang baik seharusnya tidak memaksa atlet luar biasa untuk terus-menerus bertahan dalam keterbatasan.
Regenerasi Keluarga Atlet: Rekor yang Melampaui Ayah dan Ibu
Rahmat tidak lahir dari ruang kosong.
Di belakang dirinya terdapat keluarga yang sudah sangat dekat dengan dunia angkat besi.
Sang ayah, Erwin Abdullah, merupakan mantan lifter nasional Indonesia yang juga pernah meraih prestasi di level internasional.
Erwin meraih medali perak Asian Games Busan 2002. Ia juga pernah berprestasi di Kejuaraan Asia dan Kejuaraan Dunia sebelum kemudian menjadi pelatih bagi putranya.
Namun ada satu kisah yang terasa sangat simbolis.
Erwin pernah memiliki mimpi untuk tampil di Olimpiade tetapi tidak sempat mewujudkannya. Rahmat kemudian tampil di Olimpiade Tokyo 2020 dan pulang membawa medali perunggu.
Sang anak seolah meneruskan mimpi yang belum selesai dari sang ayah.
Bukan hanya meneruskan.
Ia mengembangkannya menjadi sejarah baru.
Sementara sang ibu, Ami Asun Budiono, juga merupakan mantan atlet angkat besi dan pernah terlibat dalam pembinaan lifter di Sulawesi Selatan. Bahkan, pada masa awal perjalanan Rahmat, sang ibu ikut memberikan sentuhan pertama dalam latihan sebelum pembinaan kemudian lebih banyak ditangani sang ayah.
Maka Rahmat sesungguhnya bukan sekadar produk bakat.
Ia adalah hasil dari regenerasi sebuah keluarga atlet.
Ayahnya pernah mengangkat besi.
Ibunya pernah mengangkat besi.
Rahmat kemudian mengangkatnya lebih tinggi.
Dan ketika ia mengangkat beban di atas kepalanya, sesungguhnya ada sejarah panjang keluarganya yang ikut terangkat.
Belajar dari Preseden “Rolex”
Persoalan olahraga Indonesia sebenarnya jauh lebih besar daripada Rahmat.
Perhatian terhadap cabang olahraga di Indonesia belum selalu terasa merata.
Sepak bola memiliki daya tarik luar biasa. Ia mampu menyedot perhatian publik, media, sponsor hingga pejabat.
Namun Indonesia juga memiliki cabang olahraga yang secara konsisten menghadirkan prestasi dunia.
Bulu tangkis.
Angkat besi.
Dan sejumlah cabang olahraga lainnya.
Karena itu, ketika Rahmat dan atlet-atlet Indonesia lainnya berprestasi di panggung internasional, ukuran apresiasi seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa populer cabang olahraga tersebut.
Olahraga bukan hanya soal yang paling ramai ditonton.
Olahraga juga tentang siapa yang terus berlatih ketika tribun kosong.
Tentang siapa yang tetap mengangkat beban ketika kamera tidak menyala.
Dan tentang siapa yang membawa Merah Putih ke podium ketika sebagian besar masyarakat bahkan belum mengenal namanya.
Perdebatan publik mengenai pemberian hadiah kepada atlet sepak bola, termasuk sorotan mengenai jam tangan mewah seperti Rolex, sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk pertanyaan yang lebih luas: apakah seluruh atlet berprestasi telah memperoleh ekosistem pembinaan yang sepadan dengan kontribusinya?
Pertanyaan itu tidak harus diarahkan untuk mempertentangkan sepak bola dengan angkat besi.
Justru sebaliknya. Prestasi sepak bola patut diapresiasi.
Tetapi prestasi Rahmat, para pebulutangkis, atlet panjat tebing, panahan, atletik, dan cabang lainnya juga layak memperoleh perhatian yang serius.
Sebab ukuran sebuah negara olahraga bukan hanya berapa banyak perhatian yang diberikan kepada olahraga yang paling populer.
Tetapi juga seberapa serius negara menjaga atlet-atlet yang memiliki peluang membawa nama bangsa ke panggung dunia.
Tidak Harus Meniru China, Tetapi Bisa Belajar
China mungkin memiliki sistem olahraga yang berbeda dengan Indonesia.
Tidak perlu menirunya secara mentah.
Tetapi ada satu pelajaran sederhana yang bisa dipetik: negara yang ingin menjadi kekuatan olahraga dunia membutuhkan sistem pembinaan yang serius, berkelanjutan, fasilitas yang memadai dan regenerasi atlet yang terencana.
Rahmat memberikan contoh dari sisi sebaliknya.
Ia mampu mencapai level dunia meski pernah berhadapan dengan keterbatasan fasilitas di daerah asalnya.
Tetapi jangan sampai kisah seperti Rahmat justru menjadi alasan untuk mengatakan:
“Kalau dia bisa sukses dengan fasilitas terbatas, atlet lain juga harus bisa.”
Tidak.
Pesan yang lebih tepat justru:
Kalau atlet sebesar Rahmat saja pernah harus berjuang mendapatkan fasilitas latihan yang layak, bagaimana dengan atlet muda yang belum memiliki nama dan prestasi?
Mereka mungkin tidak memiliki kekuatan untuk bersuara.
Mereka mungkin belum punya medali.
Mereka mungkin belum pernah berdiri di podium internasional.
Tetapi bisa jadi, di antara mereka terdapat calon Rahmat berikutnya.
Karena itu, persoalan olahraga tidak boleh hanya dibicarakan setelah seorang atlet membawa pulang emas.
Pembinaan seharusnya dimulai sebelum medali datang.
Dan penghargaan tidak seharusnya berhenti setelah medali dibawa pulang.
Ada adagium yang sering dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW: “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”
Maknanya dapat kita tarik lebih luas dalam konteks olahraga: belajarlah dari siapa pun yang telah menemukan cara untuk maju.
Indonesia tidak harus menjadi China.
Sulawesi Selatan tidak harus menjadi Jawa Timur.
Dan setiap atlet tidak harus lahir dari fasilitas sempurna.
Tetapi sebuah negara, daerah, dan masyarakat tentu dapat belajar satu hal dari perjalanan Rahmat Erwin Abdullah:
Jangan biarkan keterbatasan fasilitas membuat bakat yang seharusnya mengharumkan nama bangsa berhenti sebelum waktunya.
Sebab Rahmat telah membuktikannya.
Ia datang dari Makassar.
Ditempa oleh keluarga atlet.
Berlatih dalam keterbatasan.
Mengangkat besi yang pernah disebut sudah tua dan berkarat.
Lalu mengubahnya menjadi emas.
Dan ketika akhirnya ia memilih jalan untuk melanjutkan karier bersama daerah lain, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting daripada menyalahkan siapa pun:
Mengapa seorang juara dunia harus pergi terlebih dahulu sebelum kita benar-benar belajar menghargai proses yang membuatnya menjadi juara?
Rahmat mungkin sudah berganti kontingen daerah.
Tetapi satu hal tidak berubah:
ketika ia berdiri di podium internasional, Merah Putih tetap yang berkibar.
Dan dari sanalah seharusnya kita belajar bahwa prestasi seorang atlet pada akhirnya bukan hanya milik daerah, pelatih, atau keluarganya.
Ia adalah bagian dari prestasi bangsa.
Penulis: Syariat Tella (Pegiat Sosial, Anggota AJI Makassar)


























