Metro

Takbir Berkumandang, Tapi Ibu Sudah Tak di Sini

×

Takbir Berkumandang, Tapi Ibu Sudah Tak di Sini

Sebarkan artikel ini

Penulis : Henrik


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Gema takbir itu kembali membelah langit malam, mengalun dari corong-corong masjid yang bersahutan dari satu kampung ke kampung lain. Idul Fitri 1447 Hijriah telah tiba hari kemenangan yang dinantikan jutaan jiwa di seluruh penjuru bumi. Namun di sudut dada ini, di balik senyum yang dipaksakan dan baju yang dikenakan, tersimpan satu luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Sepi itu datang lagi, tepat seperti tahun-tahun sebelumnya setia, tanpa pernah absen, tanpa pernah pamit.


Lebaran kali ini 2026, tidak ada yang berubah dari tahun-tahun sebelumnya. Kursi-kursi di ruang tamu masih berderet rapi, aroma ketupat dan opor mengepul dari dapur, dan tawa anak-anak tetangga riuh memenuhi udara pagi. Tapi di sini, di rumah yang dulu begitu hangat, ada kekosongan yang tidak bisa diisi oleh hidangan mana pun, tidak bisa ditutup oleh suara takbir semerdu apa pun. Sosok itu cahaya terbesar dalam hidup ini sudah lama berpulang ke pangkuan-Nya.


Ibu. Betapa sederhana kata itu, namun betapa dalam lautan maknanya. Sudah puluhan tahun beliau pergi, tapi setiap kali kumandang takbir terdengar, ingatan tentangnya datang berderai seperti hujan yang tidak diundang. Tangannya yang dulu sibuk melipat baju lebaran, suaranya yang dulu memanggil nama ini dengan nada penuh kasih, dan pelukannya oh, pelukan itu yang dulu terasa seperti seluruh dunia tidak akan pernah mampu menyakiti. Kini semuanya tinggal bayangan yang semakin menipis ditelan waktu, namun lukanya justru semakin terasa ketika hari raya tiba.


Ibu adalah pilar yang menopang langit dalam hidup ini ketika ibu telah tiada. Ia bukan wanitya yang banyak bicara, bukan pula yang mudah menumpahkan air mata. Tapi kasih sayangnya mengalir deras dalam setiap tindakan kecilnya dalam sepiring nasi yang disiapkannya, dalam langkah kakinya yang selalu lebih dulu tiba ketika ada kesulitan, dalam doa-doanya yang terdengar di sepertiga malam.

 Ia adalah bukti cinta seorang ibu tidak selalu bersuara keras, kadang ia hadir dalam diam yang paling setia.


Kini, di pagi Idul Fitri yang seharusnya menjadi puncak dari segala kebahagiaan, bayangan Ibu hadir begitu nyata. Terbayang bagaimana dulu ibu membangunkan lebih pagi dari siapa pun, menyiapkan air hangat, dan berkata lembut, “Nak, bangun  hari raya.”

Matanya berbinar dengan kebanggaan yang tidak ia ucapkan tapi selalu terasa. Semua itu kini hanya hidup di dalam kenangan yang dijaga dengan sangat hati-hati agar tidak hancur dimakan lupa.


Lebaran memang mengajarkan tentang kemenangan dan kebahagiaan. Tapi bagiku yang telah kehilangan orang terkasih, hari raya juga mengajarkan tentang satu hal lain yang tidak tertulis di kartu ucapan mana pun bahwa rindu bisa terasa paling berat justru di hari yang paling meriah.

Di tengah gelak tawa dan saling bersalaman ada air mata yang ditelan diam-diam. Ada nama-nama yang disebut dalam hati, bukan dengan mulut, karena kalau diucapkan keras-keras, dada ini pasti tidak akan kuat.


Tapi barangkali, inilah cara Tuhan menjaga mereka yang ku cintai tetap dekat melalui rindu. Melalui sepi yang hadir di hari raya. Melalui aroma masakan yang tiba-tiba mengingatkan pada tangan ibu.

 Melalui langkah kaki yang tanpa sadar mencari sosok ibu di antara kerumunan, meski tahu ia tidak akan ditemukan lagi di sana.

Mungkin ibu tidak pergi sepenuhnya. Mungkin hanya berpindah dari pandangan mata ke ruang yang paling dalam di dalam dada, di mana tidak ada yang bisa mengusirnya, bahkan waktu sekalipun.


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd…

Takbir itu terus berkumandang, naik ke langit, menembus awan, menuju ke tempat di mana ibu kini beristirahat dengan tenang. Mungkin dari sana, mereka ikut mendengar. Mungkin dari sana, mereka ikut tersenyum melihat bahwa anak yang pernah mereka sayangi masih berdiri, masih menapak, masih hidup meski dengan dada yang menyimpan rindu besar dan berat. Selamat Idul Fitri, Ibu tercinta.

Minal aidin wal faizin. Maafkan segala salah dan dosa. Sampai kita bertemu lagi, di kampung yang abadi”.

**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *