Metro

Sunyi di Usia 70 Tahun Kisah I Dia Difabel yang Hidup dari Uluran Tangan Warga

×

Sunyi di Usia 70 Tahun Kisah I Dia Difabel yang Hidup dari Uluran Tangan Warga

Sebarkan artikel ini

foto (dok)

Di sebuah sudut sunyi Desa Marioritengga, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, hidup seorang perempuan yang oleh warga setempat akrab dipanggil I Dia. Di usianya yang diperkirakan telah mencapai sekitar 70 tahun ia menjalani hari-harinya seorang diri di sebuah rumah bantuan pemerintah berukuran sekitar 3 x 3 meter, sebuah ruang kecil yang menjadi tempatnya berteduh dari panas dan hujan, sekaligus saksi bisu perjuangan hidupnya.


Dengan kondisi fisik yang sudah tidak mampu berjalan dan bekerja, serta keterbatasan sebagai penyandang tunawicara, kehidupan I Dia berjalan dalam keheningan yang panjang. Ia tidak hanya berjuang melawan usia yang semakin renta tetapi juga menghadapi tembok tak kasat mata yang memisahkannya dari komunikasi dan interaksi sosial seperti orang lain pada umumnya.


Setiap hari aktivitas sederhana menjadi tantangan berat baginya. Gerakan kecil yang bagi banyak orang terasa mudah, bagi I Dia membutuhkan usaha dan tenaga yang besar. Keinginan untuk hidup mandiri, bekerja, dan memenuhi kebutuhan sendiri seperti orang lain hanya bisa ia simpan dalam diam.


Namun di tengah keterbatasan yang membelenggu hidupnya kebaikan hati warga sekitar menjadi penopang harapan. Para tetangga secara bergantian datang membawakan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Uluran tangan mereka menjadi cahaya kecil yang menerangi kehidupan I Dia yang penuh keterbatasan.


Tak hanya warga sekitar, beberapa donatur yang tergerak hatinya juga kerap memberikan bantuan. Kepedulian mereka menghadirkan harapan baru bagi perempuan renta itu untuk terus bertahan menjalani hidup.


Pemerintah desa juga tidak tinggal diam. Kepala Desa Marioritengga Andi Samsul Bahri melalui program bedah rumah telah membantu menyediakan tempat tinggal yang lebih layak bagi I Dia. Meski masih sederhana rumah kecil itu setidaknya memberi rasa aman ketika hujan turun atau angin malam berhembus.


Selain itu, bantuan dari program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) menjadi penopang utama kebutuhan pangannya. Bantuan tersebut memastikan I Dia tetap bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, meskipun kehidupannya masih jauh dari kata berkecukupan.


Di balik wajahnya yang tenang dan senyum tipis yang jarang terlihat tersimpan kisah perjuangan yang menyentuh hati. Hari demi hari ia lalui dalam kesunyian menghadapi keterbatasan dan kesendirian dengan ketegaran yang tak banyak diketahui orang.


Pagi datang dan senja berlalu silih berganti, sementara rutinitas I Dia hampir tak berubah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah kecilnya, memandang keluar jendela menyaksikan kehidupan yang berjalan di luar sana sebuah dunia yang seakan begitu dekat, namun terasa jauh untuk dijangkau.


Kisah hidup I Dia menjadi potret nyata tentang sisi lain kehidupan di tengah masyarakat. Ia mengingatkan kita bahwa di sekitar kita masih ada saudara-saudara yang hidup dalam keterbatasan, menanti perhatian, kepedulian, dan uluran tangan agar dapat menjalani hidup dengan sedikit lebih layak dan bermartabat.

Penulis ; Henrik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *