KABAR-SATU,TAKALAR — Masyarakat pesisir Takalar diminta selalu waspada terhadap bencana alam, khususnya gempa bumi dan tsunami. Kabupaten Takalar berada di wilayah dengan patahan aktif, sehingga seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah wajib siaga.
Kepala Stasiun Geofisika Gowa, Rosa Amelia;menjelaskan, Sesar Walanae Barat, Sesa Walanae Timur dan Sesar Selayar memengaruhi aktivitas seismik di Sulsel. Dampak gempa, lanjut dia, bisa meluas pada aspek sosial, ekonomi, dan pembangunan daerah.
“Peta patahan aktif Indonesia dari Kementerian ESDM juga menunjukkan adanya patahan mendatar di lepas pantai Jeneponto, dekat wilayah pesisir Takalar,” ungkapnya, saat membuka Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) BMKG 2025 di Desa Sawakung Beba, Sabtu (18/10/2025).
Sejarah mencatat aktivitas tektonik di Takalar dan sekitarnya berulang. Gempa darat pada 1997 berkekuatan 4,3 magnitudo dengan kedalaman 30 km, gempa tahun 1968 di perairan Takalar 4,8 magnitudo pada kedalaman 25 km serta sejumlah gempa kecil lainnya, memperkuat potensi bencana di masa depan.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, BMKG melalui Stasiun Geofisika Kelas II Gowa menggelar SLG, bertujuan membangun budaya sadar bencana berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat serta pemerintah daerah. SLG diikuti 38 peserta dari BPBD Takalar, Polres, Kodim, camat, kepala desa, sekolah, masyarakat wilayah rawan bencana, dan media lokal.(*)












