Ramadhan kali ini terasa begitu berbeda, begitu sunyi. Tak seperti dulu, ketika suara tawa dan obrolan mereka masih memenuhi rumah. Kini hanya ada sepi yang menggema di hati. Hari kemenangan tiba, tapi mengapa hati justru terasa kalah? Aku melangkah menuju pagi Syawal dengan air mata yang sulit kubendung. Aku sadar, lagi-lagi aku menjalani Idul Fitri tanpa mereka— Ibu Ati Masyarakat sering memanggilnya, indo (nenek) Nurung warga menyapanya serta sosok laki-laki Pa Bage panggilan bagi lelaki hebat selaku orang tua yang menyayangiku setulus hati.
Puluhan tahun sudah berlalu, tapi kehilangan mereka tak pernah benar-benar terasa usang. Rasanya baru kemarin aku masih bisa mencium tangan ibu, mendengar petuah nenek, dan merasakan dekapan mereka yang penuh kasih.
Namun, waktu begitu kejam, merenggut mereka dariku sebelum aku sempat membalas segala cinta yang mereka curahkan. Aku ingin membahagiakan mereka, membalas dengan kebanggaan, tapi Tuhan lebih dulu memanggil mereka pulang.
Di hari yang seharusnya penuh suka cita ini, aku hanya bisa mengenang. Mengenang pagi-pagi Idul Fitri dulu, saat ibu membangunkanku dengan lembut, menyuruhku mandi dan bersiap mengenakan baju baru.
Mengenang saat nenek sibuk di dapur menyiapkan buras (makanan khas Bugis) dan opor, memasak dengan penuh cinta meski tubuhnya mulai renta.
Mengenang saat aku masih kecil, digandeng erat oleh mereka menuju masjid, merasakan kehangatan yang kini hanya tinggal dalam ingatan.
Kini, tak ada lagi tangan mereka yang bisa kucium. Tak ada lagi wajah teduh mereka yang tersenyum melihatku pulang. Hanya batu nisan yang menjadi saksi betapa aku merindukan mereka.
Di setiap sujud dan doa, aku memohon agar mereka diberi tempat terbaik di sisi-Nya. Namun, doa-doa itu tak cukup untuk menghapus rinduku. Setiap takbir berkumandang, aku merasa hampa, seolah kehilangan arah.
Mungkin, bagi sebagian orang, menangis di hari raya adalah hal yang aneh, apalagi bagi seorang lelaki. Tapi apa salahnya jika aku merindukan mereka? Apa salahnya jika hatiku tak kuasa menahan sesak? Aku hanya seorang anak yang kehilangan orang-orang paling berharga dalam hidupnya, anak yang belum sempat membuat mereka bangga, belum sempat membalas semua kebaikan mereka.
Idul Fitri 1446 H/2025 M kali ini bukan sekadar perayaan, melainkan pertemuan dengan kenangan. Aku berjalan sendirian menuju makam mereka, membawa bunga dan doa. Aku duduk di sana, membisikkan rindu yang tak akan pernah terjawab. Ingin sekali aku memeluk mereka sekali lagi, merasakan hangatnya kasih sayang yang kini hanya bisa kusimpan dalam hati.
Hari kemenangan ini seharusnya penuh dengan kebahagiaan, tapi bagiku, ini adalah hari di mana kesedihan datang lebih dalam. Meski begitu, aku tahu, mereka tak ingin melihatku larut dalam duka. Aku harus kuat, meski rasanya sulit. Aku harus melanjutkan hidup, meski tanpa mereka di sisiku. Aku harus belajar menerima, bahwa cinta mereka akan selalu ada, meski dalam wujud yang tak kasat mata.
Dan di akhir doa, aku hanya bisa berbisik, “Ibu, Nenek, aku rindu… Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di tempat yang lebih indah.
HeNrIk














