Foto (dok)/
KABAR-SATU,SOPPENG — Dengan gemulainya pagi, Kabupaten Soppeng menyaksikan kehadiran yang begitu dinantikan: Kimi Adipura, yang telah menghilang selama 4 tahun, kembali ke pelukan hangat Bumi La temmamala.
Namun, keajaiban ini bukan sekadar cahaya yang muncul secara tiba-tiba; di baliknya tersimpan kisah indah dan perjuangan para pahlawan Adipura.
Pasukan kuning, sebanyak 173 orang, menjadi ujung tombak dalam menyambut kembali Adipura. Mereka bukan sekadar penjaga, melainkan garda terdepan yang memastikan kehadiran Adipura memberikan dampak nyata di lapangan. Setiap fajar, mereka melangkah keluar, membersihkan dengan penuh dedikasi; penyapu jalan, armada sampah, buruh, dan penjaga taman – mereka adalah pahlawan yang menghadirkan kembali keindahan Adipura.
Beban mereka tak ringan, hampir 60 ton sampah per hari menjadi gelutannya. Namun, pengabdian mereka bukan tanpa hasil.

Aryadin Arif, sang kepala Dinas Lingkungan Hidup, menjelma sebagai sosok pemberi bukti nyata dan penjaga terangnya pengelolaan sampah di Soppeng.
Dengan tangan dingin Aryadin, TPA menjadi primadona. Mulai dari pengaturan blok, penutupan sel harian, hingga pengaturan zona aktif dan pasif, semua dilakukan dengan presisi. Bank sampah induk, pengomposan, dan budidaya maggot menjadi bagian dari kisah sukses pengelolaan sampah di bumi La Temmamala.
Namun, Adipura bukan hanya tentang keberhasilan teknis, melainkan juga sentuhan kebijakan dan penataan dibawah nahkoda Bupati Soppeng Andi Kaswadi razak.
Aryadin mengaktifkan bank sampah unit di desa, kelurahan, kecamatan, bahkan di setiap instansi. Semua diarahkan pada penanganan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle), sehingga setiap sampah tidak hanya bermanfaat, tetapi juga bernilai ekonomis.
Kisah ini, seperti seni yang muncul dari puing-puing, membangkitkan kehidupan dari titik paling lemah. Soppeng bukan sekadar menyambut kembali Adipura, melainkan mencerahkan harapan yang sempat terenggut.
Penulis : Henrik













