Foto (ist)
KABAR-SATU, JENEPONTO —- Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat bidang pangan menerapkan mesin pengupas kulit kelapa muda bagi pedagang di Desa Tino, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto.
Kegiatan bertajuk “Penerapan Mesin Pengupas Kulit Kelapa yang Praktis bagi Pedagang Kelapa Muda” tersebut diketuai Prof. Dr. H. Thamrin Tahir, M.Si., dengan anggota Dr. Muh. Yusuf Mappeasse, M.Pd., dan Andi Yusdy Dwiasta, S.T., M.T. Tim pengabdian turut melibatkan mahasiswa Ahmad Agung Ahkam dan Zulkifli.
Ketua tim Prof. Dr. H. Thamrin Tahir mengatakan, Desa Tino memiliki potensi sumber daya kelapa yang cukup melimpah dan menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Letaknya di jalur pesisir dan kawasan wisata juga membuka peluang bagi pedagang kelapa muda untuk memasarkan produk kepada masyarakat lokal maupun wisatawan.
Namun, kata Thamrin, potensi itu masih menghadapi kendala dalam proses produksi. Pengupasan kulit kelapa muda selama ini masih dilakukan secara manual menggunakan parang atau pisau besar.
“Cara tersebut membutuhkan tenaga fisik yang cukup besar, membutuhkan waktu relatif lama, serta memiliki risiko kecelakaan kerja,” kata Thamrin. Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, secara kuantitatif seorang pedagang rata-rata hanya mampu mengupas sekitar 15–20 butir kelapa per jam. Kondisi itu membuat kapasitas produksi terbatas, terutama saat permintaan meningkat. Selain itu, hasil pengupasan secara manual belum seragam sehingga dapat memengaruhi tampilan dan daya tarik produk.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim PKM UNM menghadirkan mesin pengupas kulit kelapa muda yang dirancang praktis dan ergonomis serta disesuaikan dengan skala usaha mikro pedagang kelapa muda di Desa Tino.
“Mesin ini dirancang sebagai unit berdiri dengan rangka yang kokoh dan stabil serta menggunakan mekanisme pisau putar atau pisau statis. Sistem kerjanya semi-otomatis sehingga diharapkan mudah dioperasikan pedagang tanpa membutuhkan keterampilan teknis khusus,” ujarnya.
Mesin tersebut memiliki dimensi sekitar 60 × 50 × 100 sentimeter dengan kapasitas kerja yang dirancang mencapai 30–40 butir kelapa per jam. Mesin menggunakan motor listrik sekitar 0,5–1 HP, rangka besi hollow atau baja ringan, serta dilengkapi pelindung pisau dan posisi kerja yang dirancang ergonomis.
Menurut Thamrin, kegiatan PKM tidak hanya berfokus pada penyediaan mesin, tetapi juga peningkatan kemampuan mitra dalam menggunakan dan merawat teknologi tersebut.
“Tim pengabdian memberikan pelatihan mengenai pengenalan mesin, cara pengoperasian secara aman dan efisien, perawatan dan pemeliharaan, serta penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3),” katanya.
Pelatihan dilakukan secara langsung melalui praktik agar para mitra dapat memahami pengoperasian mesin sekaligus menggunakannya secara optimal.
Selain aspek teknis, mitra juga mendapatkan pendampingan dalam pengorganisasian kerja dan pencatatan usaha sederhana. Pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat pengelolaan usaha kelompok secara berkelanjutan.
Semoga dengan penerapan mesin dapat mempercepat proses pengupasan dan meningkatkan jumlah kelapa yang dapat diproses pedagang setiap hari. Teknologi tersebut juga seliranya membantu mengurangi risiko kecelakaan kerja yang sebelumnya berpotensi terjadi akibat penggunaan parang atau pisau besar secara manual.
Hen/Adr































