Metro

Kader TPK Lalabatata Perkuat Edukasi Gizi Berbasis Agama

×

Kader TPK Lalabatata Perkuat Edukasi Gizi Berbasis Agama

Sebarkan artikel ini

Foto (dok)

KABAR-SATU, SOPPENG — Edukasi pemenuhan gizi keluarga di Kecamatan Lalabata diperkuat dengan pendekatan keagamaan. Para Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) didorong tidak hanya menyampaikan pentingnya makanan bergizi dari aspek kesehatan, tetapi juga mengaitkannya dengan tanggung jawab orang tua dalam menjaga tumbuh kembang anak.



Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lalabata, Aszriana AB saat menjadi pemateri pada kegiatan Pertemuan Satyagatra dan Orientasi Teknis Edukasi Makan Bergizi bagi Kader TPK se-Kecamatan Lalabata, yang digelar Balai Penyuluhan KB Kecamatan Lalabata, Kamis (24/9/2026).

Menurut Aszriana, , pemenuhan kebutuhan pangan keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua. Karena itu, makanan yang diberikan kepada anggota keluarga semestinya tidak hanya berorientasi pada rasa kenyang, tetapi juga memperhatikan aspek kehalalan, kualitas, kesehatan, dan kandungan nutrisinya.

“Pangan yang dikonsumsi keluarga hendaknya tidak sekadar kenyang, tetapi harus memenuhi kriteria halalan thoyyiban. Halal secara cara memperolehnya, serta thoyyib atau baik, sehat, dan bernutrisi bagi tubuh,” ujar wanita berhijab ini. 

Ia menjelaskan, perhatian terhadap asupan gizi anak juga sejalan dengan prinsip hifdzun nasl atau menjaga keturunan dalam syariat Islam. Prinsip tersebut dapat menjadi landasan moral bagi keluarga untuk memberikan perhatian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang generasi penerus.

Pendekatan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi kader TPK ketika melakukan pendampingan di tengah masyarakat. Dengan menggabungkan pesan kesehatan dan nilai keagamaan, edukasi mengenai pencegahan stunting serta pemenuhan makanan bergizi diharapkan lebih mudah diterima dan diterapkan oleh keluarga sasaran.

Melalui kegiatan orientasi ini, kader TPK di Kecamatan Lalabata diharapkan mampu membawa pesan gizi hingga ke tingkat keluarga secara lebih komprehensif, sehingga upaya membangun generasi yang sehat dapat berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Hen.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *