foto (int)
— Setiap 8 Agustus, dunia memperingati Hari Kucing Internasional. Namun perayaan tahun ini mencermati sesuatu yang lebih besar daripada sekadar foto kucing lucu di media sosial: pergeseran cara generasi muda memandang hubungan mereka dengan hewan peliharaan. Istilah “pemilik kucing” kini perlahan digantikan dengan sebutan “orangtua kucing”, perubahan bahasa yang oleh The Eastleigh Voice dinilai mencerminkan transformasi budaya yang lebih luas dalam relasi manusia dan hewan.
Fenomena ini didukung data. Studi global 2024 yang ditugaskan Mars dan dikerjakan bersama Ipsos terhadap lebih dari 20.000 pemilik anjing dan kucing di 20 negara menemukan 37 persen responden menganggap hewan peliharaan mereka sebagai hal terpenting dalam hidup.
Angka ini bahkan lebih tinggi di kalangan generasi muda: 45 persen pada Gen Z dan 40 persen pada milenial. Studi yang sama mencatat 47 persen responden adalah pemilik hewan peliharaan untuk pertama kalinya.
Definisi “orangtua hewan peliharaan” pun bukan sekadar soal kasih sayang. Mars/Ipsos mendefinisikannya sebagai seseorang yang bertanggung jawab penuh atas keputusan dan perawatan hewan, mencakup pola makan, kesehatan, dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Tren ini ternyata tidak eksklusif milik negara-negara Barat. Survei TGM Global Pet Care 2023 mencatat 68 persen pemilik hewan peliharaan di Kenya memiliki kucing, dibandingkan 63 persen yang memiliki anjing menunjukkan kucing punya tempat istimewa di kawasan Afrika Timur yang secara tradisional lebih memandang hewan dari sisi fungsi praktis, seperti anjing sebagai penjaga rumah dan kucing sebagai pengendali tikus, ketimbang sebagai pendamping emosional.
Kucing dinilai cocok dengan gaya hidup urban modern karena sifatnya yang relatif mandiri. Berbeda dari anjing yang perlu diajak jalan beberapa kali sehari, kucing tidak menuntut rutinitas seaktif itu, menjadikannya pilihan populer bagi generasi muda dengan mobilitas tinggi dan ruang hidup terbatas di kota.
Media sosial turut mempercepat tren ini. Kucing telah menjadi bagian besar budaya daring lewat meme dan video pendek yang ditonton jutaan orang.
Studi Mars/Ipsos mencatat 13 persen responden menyebut media sosial memengaruhi keputusan mereka memelihara hewan sedikit di bawah pengaruh keluarga (26 persen) dan teman (21 persen), namun setara dengan pengaruh pencarian daring. Pengaruh ini tak hanya menghibur, tetapi juga membentuk ekspektasi calon pemilik sebelum benar-benar mengadopsi kucing, mulai dari mainan, makanan, hingga penataan rumah.
Pergeseran cara pandang ini turut mengubah pola belanja. Selain kebutuhan dasar seperti makanan dan layanan kesehatan, pasar kini berkembang mengikuti ikatan emosional pemilik dengan hewannya mulai dari makanan khusus, camilan, mainan, hingga aksesori.
Jepang disebut sebagai contoh paling jelas, dengan pemilik yang berinvestasi pada alat pemberi makan otomatis, kamera pemantau, hingga kereta dorong khusus hewan. Namun tren ini bukan monopoli negara maju; Kenya pun disebut memiliki budaya hewan peliharaan yang terus tumbuh.
Kehadiran kucing di rumah tetap membawa konsekuensi nyata: jadwal makan yang harus diperhatikan, penataan perabotan, jendela yang perlu diamankan, hingga kebutuhan mencari orang kepercayaan saat pemilik bepergian.
Laporan tersebut mengingatkan bahwa esensi “orangtua kucing” bukan soal mendandani hewan atau rajin mengunggah foto, melainkan memahami bahwa membawa hewan ke rumah menciptakan tanggung jawab jangka Panjang termasuk menghormati kodrat alami hewan tersebut, bukan sekadar memproyeksikan ekspektasi manusia kepadanya.
Data lain dari studi Mars menunjukkan 84 persen anjing dan kucing dalam survei diperoleh sebelum usia 12 bulan, menegaskan peran besar anak kucing dan anak anjing dalam mengawali perjalanan seseorang menjadi pemilik hewan. Secara global, kepemilikan kucing juga tercatat lebih umum dibanding anjing, dengan komposisi pemilik 52 persen laki-laki dan 48 persen perempuan.
Pada akhirnya, perubahan paling mencolok bukan pada jumlah kucing di rumah-rumah manusia, melainkan pada cara manusia membicarakannya dari sekadar “hewan peliharaan keluarga” menjadi teman hidup, selebritas daring, bahkan dipanggil sebagai “anak” oleh pemiliknya.
Sumber ; Kompas.com
























