foto (dok)
KABAR-SATU,SOPPENG — Di penghujung bulan suci Ramadan yang penuh berkah, aksi kemanusiaan yang menyentuh hati terjadi di Desa Marioritengga, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng.
Alumni Smu Negeri 1 Liliriaja angkatan 2000 mendatangi kediaman I Dia Waita, seorang perempuan yang hidup sebatang kara dengan keterbatasan fisik tak mampu bicara, tak mampu bekerja, dan hanya menggantungkan hidupnya pada belas kasihan warga sekitar.
I Dia Waita adalah potret kesendirian yang paling menyayat. Di tengah hiruk-pikuk masyarakat yang sibuk menyambut lebaran, ia menjalani hari-harinya dalam sunyi tanpa suara, tanpa teman, tanpa sandaran. Keterbatasan yang ia miliki membuatnya terisolasi dari dunia, dan untuk sekadar bertahan hidup, ia hanya mengandalkan bantuan warga sekitar serta beberapa donatur yang sesekali datang menyapanya.
Melihat kondisi itu, alumni Smu Negeri 1 Liliriaja angkatan 2000 yang beranggotakan Yenni, Ramayana, Susi Hartati, Megawati, Nikmah, dan sejumlah anggota lainnya tergerak untuk hadir membawa setitik cahaya. Mereka menyerahkan bantuan berupa paket sembako dan uang tunai, sebagai wujud kepedulian yang telah lama direncanakan jauh hari sebelum Ramadan berakhir.
Ramayana, salah satu perwakilan alumni mengungkapkan nama I Dia pertama kali diketahui melalui beberapa pemberitaan yang beredar. Kondisi kehidupannya yang sangat terbatas membuat para alumni sepakat bahwa ia sangat layak untuk menerima uluran tangan.
“Hidup seorang diri dengan keterbatasan yang dimiliki, dan memang sangat layak untuk mendapatkan bantuan,” ujarnya.Rabu (18/3/2026).
Sementara itu, Yenni menambahkan, meski nilai bantuan yang diberikan mungkin tidak seberapa, namun semangat kebersamaan yang mengiringinya jauh lebih berharga.
“Bantuan yang diberikan mungkin nilainya tak seberapa, akan tetapi kami bersama teman-teman angkatan jauh hari memang sudah merencanakan hal ini,” tuturnya’
Nikmah pun menyampaikan harapan yang dalam. Ia berharap agenda berbagi ini tidak berhenti pada tahun ini saja, melainkan menjadi tradisi tahunan yang terus hidup di antara para alumni.
“Sumbangan yang diberikan merupakan inisiatif teman angkatan, dan kami berharap agenda ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya demi membantu sesama yang memang membutuhkan,” katanya.
Kisah I Dia Waita adalah pengingat pahit bahwa di balik gemerlapnya perayaan hari raya masih ada saudara kita yang berjuang sendirian dalam gelap.
Ia tak bisa berterima kasih dengan kata-kata karena suaranya telah lama membisu. Namun di matanya yang berkaca-kaca saat menerima bantuan itu, tersimpan ungkapan syukur yang jauh lebih dalam dari sekadar rangkaian kalimat.
Hen












