Oleh : Henriono
Pimred kabar-satu.com
Air mata menetes di tengah kegembiraan penerimaan rapor. Musdalifah siswi kelas 1 SMP Sekolah Rakyat Terintegritas (SRT) 64 Soppeng memohon kepada wali asuhnya, “Apakah bisa ka tinggal saja di asrama? Karena kalau pulang di rumah sepi, hanya ada bapak saja. Mama sudah meninggal.” Wajah penuh harap itu merubah suasana bahagia menjadi haru. Betapa pedihnya hati seorang anak yang kehilangan figur ibu hingga ia lebih memilih tinggal di asrama ketimbang pulang ke rumah yang sunyi.
Keengganan Musdalifah bukanlah tanpa alasan. Selama berbulan-bulan tinggal di asrama, ia menemukan kehangatan yang hilang dari rumahnya. Para pengasuh menjaga, memperhatikan, dan merawat mereka layaknya anak sendiri. Di asrama, Musdalifah terhibur dan tidak kesepian seperti di rumah yang kini hanya dihuni ayahnya setelah sang ibu berpulang.
Kepala Sekolah SRT 64 Soppeng, Arni Erjilla mengungkapkan, rata-rata anak didiknya memang enggan pulang karena sudah merasa betah. Namun, berbeda dengan Musdalifah. Selain merasa sepi di rumah, akses jalan ke rumahnya yang terletak di kecamatan marioriwawo juga sangat jauh dan tidak dijangkau kendaraan, sehingga pihak sekolah harus mengantarnya pulang.

Momen penerimaan rapor semester ganjil kali ini menjadi pengalaman yang memilukan sekaligus menyentuh. Anak-anak yang seharusnya bersuka cita pulang membawa hasil belajar mereka, justru menunjukkan keengganan untuk berpisah dari asrama. Bahkan ketika dijemput orang tua dan diberi uang transportasi sebesar 170 ribu rupiah per anak, sebagian besar mereka tetap tidak rela meninggalkan tempat yang telah menjadi rumah kedua. Penerimaan rapor bagi siswa dan siswi SRT 64 adalah momen membahagiakan sekaligus mengharukan.
Kebahagiaan menerima laporan hasil belajar bercampur dengan kesedihan melihat anak-anak yang tidak ingin berpisah dari lingkungan yang telah memberi mereka kasih sayang.
Kisah Musdalifah adalah potret kehidupan ribuan anak di Indonesia yang kehilangan sosok orang tua. Asrama SRT 64 Soppeng telah menjadi pelabuhan hati bagi anak-anak yang mencari kehangatan keluarga. Di sana, mereka tidak hanya mendapat pendidikan, tetapi juga kasih sayang yang menyembuhkan luka kehilangan.
Tangisan haru di hari penerimaan rapor itu menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar nilai dan angka. Bagi anak-anak seperti Musdalifah, sekolah adalah rumah, guru adalah orang tua, dan teman-teman adalah saudara yang menemani di tengah kesepian.












