Penulis: Syariat Tella
Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, pernah berkata: “Orang Sulawesi Selatan itu mudah ditemukan, dari bawah jembatan sampai istana kenegaraan.”
Ungkapan sederhana itu sesungguhnya menggambarkan watak masyarakat Sulawesi Selatan: pekerja keras, pantang menyerah, dan selalu menemukan jalan di tengah keterbatasan. “Bawah jembatan” bisa dimaknai sebagai titik terendah kehidupan, tempat seseorang memulai perjuangannya dengan segala keterbatasan. Sementara “istana kenegaraan” adalah simbol pencapaian tertinggi yang diraih melalui kerja keras, ketekunan, dan pengabdian.
Banyak putra-putri Sulawesi Selatan yang menapaki jalan panjang dari titik paling bawah hingga mencapai posisi terhormat. Salah satunya adalah Rudianto Lallo, sosok yang lahir dan tumbuh di sebuah tempat yang bahkan dahulu nyaris tidak dikenal banyak orang: Pulau Lakkang.
Pulau seluas kurang lebih 300 hektare itu berada di tengah pertemuan aliran sungai, terpisah dari daratan utama Kota Makassar. Dahulu, tidak ada akses jalan darat, apalagi jembatan. Untuk menuju kota, masyarakat harus menyeberangi Sungai Tallo menggunakan perahu. Keterisolasian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Lakkang.
Namun sejarah sering mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi mereka yang memiliki mimpi besar.
Dari pulau yang sunyi itu lahirlah seorang anak kampung yang kelak dikenal luas di tingkat nasional. Namanya Rudianto Lallo.
Hari ini, nama tersebut tidak lagi asing. Pada periode 2024–2029, ia dipercaya menjadi anggota DPR RI dan dikenal sebagai salah satu legislator asal Sulawesi Selatan yang paling vokal di Komisi III DPR RI. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman panjang di bidang hukum, setiap pandangannya kerap menjadi perhatian publik. Kritiknya tajam, namun tetap berbasis argumentasi dan solusi. Di tengah berbagai dinamika hukum dan hak asasi manusia, suaranya hadir sebagai representasi keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Namun perjalanan itu tidak lahir secara instan.
Sebelum duduk di Senayan, Rudianto Lallo telah menempuh jalan panjang sebagai advokat dan pejuang hukum. Melalui jenjang karier Legislator dari DPRD Makassar hingga DPR RI. Ia memahami denyut kehidupan masyarakat karena pernah merasakan langsung kerasnya perjuangan dari bawah. Kisah hidupnya bukan sekadar perjalanan dari nol menuju sukses, melainkan perjalanan membangun sesuatu dari keterbatasan yang nyaris tidak diperhitungkan.
Menariknya, perjalanan hidup Rudianto Lallo seolah memiliki kemiripan dengan sejarah Pulau Lakkang itu sendiri.
Lakkang terbentuk melalui proses sedimentasi alami yang berlangsung selama bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit material yang terbawa arus sungai mengendap hingga akhirnya membentuk daratan yang kokoh. Begitu pula kehidupan. Kesuksesan tidak selalu lahir dari lompatan besar, tetapi dari proses panjang, konsistensi, dan kemampuan bertahan menghadapi berbagai benturan.
Rudianto Lallo adalah gambaran nyata dari proses tersebut.
Ia membuktikan bahwa asal-usul bukanlah batasan. Bahwa tempat lahir tidak menentukan sejauh mana seseorang dapat melangkah. Bahwa keterbatasan fasilitas, akses, maupun keadaan ekonomi tidak pernah mampu menghalangi mereka yang memiliki tekad kuat untuk maju.
Dari sebuah pulau kecil yang dahulu nyaris tidak dikenal, kini lahir seorang tokoh yang suaranya bergema hingga ruang-ruang penting pengambilan kebijakan nasional. Dari Lakkang, namanya melangkah ke Senayan. Dari keterbatasan, ia menjelma menjadi inspirasi.
Tepat pada 4 Juni 1982, mungkin tidak banyak yang mengetahui di mana Pulau Lakkang berada, apalagi mengenal siapa Rudianto Lallo. Namun hari ini, pada 4 Juni 2026, saat genap berusia 44 tahun, nama Lakkang dan Rudianto Lallo terus berkibar di panggung nasional.
Perjalanan itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tidak ada mimpi yang terlalu jauh untuk diraih. Sebab sering kali, tempat-tempat yang paling sederhana justru melahirkan kisah-kisah paling luar biasa.
Selamat Ulang Tahun, Rudianto Lallo.
Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, kebijaksanaan, dan kesempatan untuk terus mengabdi bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Semoga langkah pengabdian yang telah ditempuh menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa dari mana pun kita berasal, masa depan tetap bisa ditulis dengan kerja keras, integritas, dan keteguhan hati.














