Foto (dok)
KABAR-SATU, MQKASAAR — Ada orang yang memperoleh jabatan karena momentum. Ada pula yang dipercaya memimpin karena rekam jejak. Dalam kategori kedua itulah nama Andi Iwan Darmawan Aras (AIA) layak ditempatkan.
Sabtu, 13 Juni 2026, di Hotel Hakuna Matata Resort, Kabupaten Bulukumba, menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan kepemimpinannya. Untuk kedua kalinya, AIA dipercaya memimpin Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sulawesi Selatan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pergantian kepengurusan organisasi. Namun bagi mereka yang mengikuti perjalanan panjangnya, kepercayaan tersebut merupakan kelanjutan dari sebuah pola yang terus berulang: hampir di setiap organisasi yang ia masuki, nama Andi Iwan Darmawan Aras selalu berakhir pada satu posisi yang sama, yakni Ketua.
Fenomena itu tentu bukan kebetulan.
Gelar ketua yang melekat dalam dirinya bukan lahir dari pencitraan sesaat, melainkan dari akumulasi pengalaman, ketekunan, dan kemampuan membangun kepercayaan. Dari dunia konstruksi melalui Gapensi, dunia usaha melalui Kadin, hingga dunia politik melalui DPD Gerindra Sulawesi Selatan, AIA berkali-kali mendapatkan mandat yang sama: memimpin.
Tidak semua orang nyaman berada di posisi tersebut. Sebab menjadi ketua berarti menjadi orang pertama yang dicari saat organisasi menghadapi persoalan, sekaligus orang terakhir yang boleh menyerah ketika tantangan datang. Kepemimpinan bukan sekadar kehormatan, tetapi juga beban tanggung jawab. Dan sejauh ini, AIA menunjukkan kemampuannya dalam mengelola keduanya.
Jika harus menggambarkan dirinya dengan satu kata, mungkin kata yang paling tepat adalah matang.
Kematangan itu tidak datang dalam semalam. Ia dibentuk oleh perjalanan panjang, oleh kemenangan dan kekalahan, oleh dinamika politik yang keras, serta oleh pengalaman memimpin berbagai organisasi dengan karakter yang berbeda.
Di dunia politik, namanya tumbuh melalui medan yang tidak mudah. Tiga kali bertarung di Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan II, sebuah dapil yang kerap dijuluki “dapil neraka” karena kerasnya persaingan politik, AIA selalu berhasil mempertahankan tempatnya di Senayan. Sejak pertama kali terpilih pada periode 2014–2019, kemudian kembali pada 2019–2024, hingga melanjutkan amanah pada 2024–2029, ia membuktikan bahwa konsistensi sering kali lebih penting daripada popularitas sesaat.
Lebih dari itu, AIA adalah salah satu saksi hidup perjalanan Partai Gerindra di Sulawesi Selatan. Ketika partai tersebut masih merintis jalan dan belum menjadi kekuatan besar seperti hari ini, ia telah berdiri di barisan depan sebagai salah satu deklarator dan penggerak utama. Di masa ketika banyak orang masih meragukan masa depan partai itu, AIA memilih untuk bertahan, bekerja, dan membangun.
Hari ini, ketika Gerindra menjadi salah satu kekuatan politik terbesar nasional dan menjadi partai utama pengusung Presiden Prabowo Subianto, perjalanan panjang tersebut terasa menemukan relevansinya. Kesuksesan besar sering kali dibangun oleh orang-orang yang bersedia bekerja ketika belum ada sorotan dan penghargaan.
Di parlemen nasional, pengalaman dan kapasitasnya kembali mendapat pengakuan. Amanah sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR RI menempatkannya pada salah satu sektor paling strategis dalam pembangunan nasional. Infrastruktur, transportasi, konektivitas wilayah, hingga pembangunan kawasan menjadi bagian dari ruang kerja yang ia geluti setiap hari.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, kontribusinya dapat dilihat dalam berbagai upaya percepatan pembangunan yang menghubungkan daerah, membuka akses ekonomi, dan memperkuat daya saing wilayah. Salah satu yang paling sering dikaitkan dengan namanya adalah dukungan terhadap pengembangan jalur kereta api Sulawesi, sebuah proyek bersejarah yang tidak hanya berbicara tentang rel dan stasiun, tetapi tentang masa depan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Namun di atas semua jabatan dan pencapaian itu, ada satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari perjalanan Andi Iwan Darmawan Aras.
Bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari berapa banyak gelar yang disandang, melainkan dari berapa banyak kepercayaan yang mampu dipertahankan. Jabatan bisa diberikan, tetapi kepercayaan harus diperjuangkan setiap hari.
Mungkin itulah alasan mengapa gelar “Ketua” terus melekat pada dirinya. Bukan karena ia mengejar posisi tersebut, melainkan karena berbagai organisasi melihat kapasitas yang membuatnya layak berada di sana.
Pada akhirnya, perjalanan AIA mengajarkan bahwa kesuksesan bukanlah tentang seberapa cepat seseorang mencapai puncak, melainkan tentang seberapa konsisten ia berjalan, bekerja, dan bertahan dalam proses panjang menuju puncak itu.
Dan dalam perjalanan panjang tersebut, Andi Iwan Darmawan Aras telah menunjukkan satu hal yang tidak dimiliki semua orang: kemampuan untuk terus dipercaya.
Sebab di dunia yang penuh kompetisi, kepercayaan adalah mata uang kepemimpinan yang paling mahal.
Penulis: Syariat Tella












