foto (ist)
KABAR-SATU,SOPPENG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng menggelar workshop empat hari yang diikuti 297 kepala sekolah PAUD, SD, dan SMP. Kegiatan berlangsung 2–5 November 2026 di Aula SMP Negeri 1 Watansoppeng, dengan target setiap kepala sekolah menghasilkan satu karya inovasi sesuai kebutuhan lembaganya.
Workshop ini merupakan bagian dari gerakan Satu Kepala Sekolah Satu Inovasi. Gagasan yang disusun tidak harus seragam karena kondisi, sumber daya, dan masalah tiap sekolah berbeda.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Soppeng Dr. Drs. H. Nur Alim, M.Pd., menegaskan, pembaruan tidak selalu menuntut dana besar. Menurutnya, ide sederhana pun layak dijalankan selama mampu memperbaiki layanan dan membawa manfaat bagi seluruh warga sekolah.
Ia mengingatkan agar karya yang dihasilkan tidak sekadar menjadi berkas atau pelengkap administrasi untuk ajang lomba. Hasilnya harus hadir dalam praktik sehari-hari dan dirasakan guru, murid, hingga masyarakat di sekitar sekolah.
“Dalam workshop tersebut, peserta didampingi menyusun naskah inovasi dengan model STAR (Situasi, Tantangan, Aksi, dan Refleksi). Mereka juga menyiapkan video dokumentasi dan bahan presentasi untuk menjelaskan gagasan serta hasil inovasi yang dikembangkan,” katanya.
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan, Muhammad Husni, yang bertindak sebagai fasilitator sekaligus penanggung jawab kegiatan, menilai kendala di banyak sekolah bukan kekurangan ide.
Menurutnya, banyak praktik baik sudah berjalan di tangan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan, namun belum dicatat dan belum disusun secara sistematis.
Husni menyebut tahap sesudah workshop justru lebih menantang. Setiap karya perlu ditindaklanjuti, dievaluasi, dan dikembangkan supaya tidak berhenti begitu pelatihan usai. Untuk itu, sekolah memerlukan pendampingan serta kebijakan yang menopang keberlanjutannya.
Ke depan, seluruh karya akan disiapkan untuk didaftarkan ke sistem inovasi daerah melalui Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda). Langkah ini dimaksudkan agar upaya tiap sekolah tersambung dengan arah pembangunan daerah, sekaligus membuka peluang bagi praktik yang terbukti berhasil untuk ditiru satuan pendidikan lain.
Keberhasilan gerakan ini tidak diukur dari banyaknya judul karya yang terkumpul. Penentunya adalah kebiasaan para pendidik berpikir kreatif setiap kali menghadapi masalah, sehingga pembaruan menjadi bagian dari tata kerja sekolah, bukan kegiatan musiman yang ramai hanya saat ada program atau kompetisi.
**












