Wakil Bupati Soppeng Selle Ks Dalle saat di temui Wartawan di rumah jabatan (foto ono )
KABAR-SATU,SOPPENG — Peran PLN kini menjadi salah satu penentu utama dalam upaya menyelamatkan sektor pertanian di Kabupaten Soppeng, dari ancaman kekeringan berkepanjangan.
Jaringan listrik yang dibentangkan PLN ke area persawahan dinilai menjadi kunci agar petani tetap bisa mengoperasikan pompa air, terutama saat debit air permukaan dan saluran irigasi menurun drastis akibat cuaca ekstrem.
Wakil Bupati Soppeng Selle Ks Dalle mengungkapkan, gagasan program listrik masuk sawah lahir dari kekhawatirannya terhadap dampak musim kering panjang. Namun ia menegaskan, program ini hanya bisa terwujud jika pln turut ambil bagian dalam memperluas jangkauan jaringan listrik ke titik-titik lahan pertanian yang tersebar di wilayah Soppeng.
“Ada anggaran sudah disiapkan buat sumur bor, tapi belum cukup anggaran untuk bentangkan kabel. Anggaran pln cuma bisa sampai 50 meter dan maksimal 200 meter untuk beberapa sawah. Tapi itu belum cukup sehingga harus ajukan anggaran khusus dan itu perlu waktu,” kata Selle saat ditemui di Rumah Jabatan (Rujab) wakil bupati soppeng, Kamis (20/8/2026).
Menurut Selle, persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan sumur bor, melainkan pada keterbatasan anggaran pln untuk menjangkau lahan pertanian yang letaknya jauh dari jaringan listrik utama. Pembangunan sumur bor yang sudah disiapkan Kementerian Pertanian dan Pemkab Soppeng berisiko tidak maksimal jika listrik belum sampai ke lokasi.
Kondisi ini membuat Selle aktif menyuarakan kebutuhan dukungan tambahan dari pln, baik melalui perluasan anggaran jaringan maupun percepatan proses pengajuan sambungan listrik ke area persawahan.
Ia menyampaikan gagasan tersebut langsung kepada Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, jajaran pln, hingga legislator DPR RI agar program listrik masuk sawah bisa mendapat dukungan lebih luas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertanian menjadi penopang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Soppeng. Namun tanpa dukungan jaringan listrik yang memadai dari PLN potensi kerugian yang mengintai petani sangat besar.
Berdasarkan kajian Selle, kehilangan hasil gabah akibat musim ekstrem dapat mencapai sekitar 32.000 ton per tahun. Jika dihitung dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, maka potensi kerugian ekonomi mencapai:
32.000 ton × 1.000 kg × Rp6.500 = Rp208 miliar
“Lebih Rp200 miliar petani Soppeng kehilangan uang setiap tahun,” ujar Selle.
Angka tersebut menurutnya, menjadi alasan kuat mengapa perluasan jaringan listrik oleh PLN ke area persawahan tidak bisa ditunda. Tanpa listrik, pompa air tidak bisa dioperasikan, dan tanpa pompa air, sumur bor yang sudah dibangun tidak akan banyak membantu petani saat kemarau tiba.
Selle menegaskan, program listrik masuk sawah bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan sendiri Pemkab Soppeng. Dibutuhkan kolaborasi lintas institusi, termasuk peran aktif pln dalam mempercepat perluasan jaringan listrik ke lahan pertanian.
Ia menyadari proses pengajuan anggaran khusus ke pln membutuhkan waktu apalagi di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat. Namun ia optimistis jika sinergi antara Pemkab Soppeng, Pemprov Sulsel, Kementerian Pertanian, dan PLN dapat berjalan baik, Soppeng berpotensi menjadi daerah percontohan dalam menghadapi ancaman kekeringan di sektor pertanian.
Bagi Selle, dukungan pln bukan sekadar soal memasang tiang dan menarik kabel. Di baliknya ada harapan besar agar petani Soppeng tidak lagi kehilangan hasil panen hanya karena air tidak tersedia saat sawah membutuhkannya.
Hen/Iyat































