Metro

Purnawirawan Polri Sulsel Berduka di Hari Polwan: Ketika Pengabdian Ditutup di Hari Lahir Korps

×

Purnawirawan Polri Sulsel Berduka di Hari Polwan: Ketika Pengabdian Ditutup di Hari Lahir Korps

Sebarkan artikel ini

Foto (dok)

KABAR -SATU,MAKASSAR — Ada perpisahan yang datang dengan cara begitu sunyi, tetapi meninggalkan makna yang begitu dalam.



Di tengah peringatan Hari Polisi Wanita (Polwan), Selasa, 1 September 2026, keluarga besar Persatuan Keluarga Besar Purnawirawan Polri (PP) Daerah Sulawesi Selatan justru diselimuti duka.

Salah seorang purnawirawan senior, Purn. Kompol Hj. Ety Endang Susiolawati, berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Almarhumah kemudian dimakamkan tepat pada 1 September, hari yang menjadi penanda lahirnya Korps Polwan.

Kepergian tersebut terasa semakin emosional bagi keluarga dan para sejawat yang pernah mengenal perjalanan hidup serta pengabdian almarhumah.

Hj. Ety Endang dikenal sebagai salah satu figur senior Polwan yang dihormati di Sulawesi Selatan. Ia juga merupakan istri dari Kompol (Purn) Nawu Thaiyeb, mantan Kapolsek Bontoala dan Ujung Pandang.

Kabar kepergian almarhumah membuat rumah duka di Perumahan Graha Lestari, Makassar, dipenuhi kerabat, keluarga, serta jajaran purnawirawan Polri yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir.

Sejumlah sejawat mengaku terkejut mendengar kabar tersebut. Mereka tidak banyak mengetahui bahwa kondisi kesehatan almarhumah terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami terkejut karena tidak banyak kabar yang kami ketahui tentang kondisi kesehatan almarhumah beberapa tahun terakhir,” ujar seorang purnawirawan yang hadir di rumah duka, Selasa (1/9/2026).

Di balik kepergiannya, tersimpan kisah tentang keluarga yang tak pernah berhenti mendampingi.

Sang suami, Kompol (Purn) Nawu Thaiyeb, bersama kedua anak mereka, selama ini setia berada di sisi almarhumah melewati masa-masa sulit hingga akhir hayat.

Bagi mereka yang pernah mengenalnya, Hj. Ety Endang bukan sekadar seorang purnawirawan. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang Korps Polwan di Sulawesi Selatan—seorang perempuan yang pernah mengenakan seragam Bhayangkara dan mengabdikan bagian penting hidupnya untuk tugas dan pengabdian.

“Apresiasi yang besar kepada keluarga besar purnawirawan Polwan, dan seluruh kerabat yang sempat hadir sekaligus mendoakan almarhumah ibu kami.

“Sebelum beliau wafat beliau sering bercerita bagaimana kebanggaannya menjadi seorang polwan. Dia selalu membanggakan korps nya pada anak dan keluarganya. Beliau selalu mendoakan agar polri semakin maju dan lebih baik. Beliau selalu bangga menunjukkan fotonya saat berdinas dan selalu bangga dengan rekan-rekannya sesama polwan,” tulis putra pertama Almarhumah, Hj. Ety Endang, Bayu Widji Novian Saputra.

Kini seragam itu telah lama ditanggalkan. Masa dinas aktif telah selesai. Namun, semangat pengabdian dan kenangan tentang sosoknya tetap hidup di hati keluarga dan para sejawat.

Dan ada sebuah kebetulan yang terasa begitu sarat makna.

Hj. Ety Endang berpulang tepat pada Hari Polwan, 1 September.

Bagi keluarga besar almarhumah, tanggal tersebut bukan sekadar hari duka. Ada makna simbolis yang mendalam di baliknya.

Hari ketika Korps Polwan memperingati kelahirannya, menjadi hari ketika seorang srikandi Bhayangkara menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Seolah sebuah kalimat sederhana menjadi penutup seluruh perjalanan itu:

“Tugas selesai.”

Masa pengabdian aktifnya memang telah berakhir. Namun, kepergiannya tepat di hari lahir korps yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya terasa seperti sebuah tanda bahwa seluruh tugas, pengabdian, perjuangan, dan perjalanan hidupnya telah dituntaskan dengan penuh kehormatan.

Bagi keluarga, kepergian itu juga menjadi pengingat bahwa seorang Bhayangkara mungkin telah meninggalkan dunia tugas, tetapi semangat pengabdiannya tidak pernah benar-benar berakhir.

Sebab ada nilai yang akan terus melekat, bahkan setelah seragam dilepas dan masa dinas berakhir:

“Sekali Bhayangkara, tetap Bhayangkara.”

Selamat jalan, Tante Hj. Ety Endang.

Semoga seluruh pengabdian, kebaikan, dan perjuangan semasa hidup menjadi amal yang terus mengalir.

Insyaallah husnul khatimah.

Aamiin.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *