Arfanfadillah.S.I.P {foto dok)
– Wisudawan terbaik itu pernah dua kali gagal masuk IPDN, keluar dari Fakultas Kedokteran Gigi, dan duduk di malam-malam panjang yang tak pernah ia unggah di media sosial mana pun.
Pada 16 Februari 2026, Arfan Fadillah berdiri di antara ratusan wisudawan Universitas Muhammadiyah Makassar dengan toga di bahu dan IPK 3,98 tercetak di ijazahnya. Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP mengukuhkannya sebagai Wisudawan Terbaik I. Foto-foto beredar. Senyum mengembang. Keluarga memeluk. Semua terlihat nampak sempurna.
Tapi Arfan tahu, ada yang tidak terlihat dalam bingkai foto itu. Arfan bukan anak yang asing dengan prestasi. Ia lulus sebagai lulusan Terbaik 1 SMAN 5 Soppeng, meninggalkan bangku SMA dengan berbagai capaian yang membuat jalannya terasa sudah terbentang lurus. Ia yakin tujuannya jelas, Institut Pemerintahan Dalam Negeri IPDN.
Ia mendaftar. Ia gagal.
Ia mendaftar lagi. Ia gagal lagi.
Dua kegagalan beruntun di pintu yang sama bukan sekadar soal tidak lolos seleksi. Bagi seseorang yang terbiasa menang, itu adalah benturan pertama dengan kenyataan hidup tidak membaca rencana yang sudah disusun rapi.
“Gagal adalah belajar menerima bahwa hidup tidak selalu mengikuti rencana,” kata Arfan, merangkum dua tahun yang ia simpan jauh di dalam dada.
Setelah IPDN, ada pintu lain yang terbuka: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Ia masuk. Ia mencoba. Dan di sinilah keberanian jenis lain diuji, bukan keberanian untuk terus maju, melainkan keberanian untuk berhenti.
Arfan sadar, ruang itu bukan panggilannya. Keputusan untuk keluar tidak mudah diterjemahkan kepada orang-orang di sekitarnya. Tidak semua memahami. Sebagian mungkin mempertanyakan. Tapi dari titik itulah ia merumuskan prinsip yang kemudian ia pegang erat: keberanian adalah tentang berani memilih ulang jalan hidup.
Ia pulang. Bukan menyerah. Ia mencari arah yang lebih jujur. Arfan memulai kembali di Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Makassar. Kali ini bukan hanya soal lulus, ia ingin membuktikan sesuatu kepada dirinya sendiri bahwa kepercayaan diri yang pernah runtuh itu bisa dibangun ulang dan proses bisa menjadi identitas.
Ia aktif di berbagai kegiatan dan perlombaan. Ia menjadi Duta Kampus Unismuh Makassar. Ia mengabdikan waktu sebagai tutor BIPA, mendampingi penutur asing belajar bahasa Indonesia sebuah peran yang menuntutnya untuk hadir penuh bukan sekadar lewat.
Terlibat dalam LKUI, LP2B, LPKA, serta keluarga besar Duta Kampus, Arfan menemukan apa yang ia sebut sebagai “ruang berprose” tempat di mana kepemimpinan bukan diumumkan, melainkan dilatih hari demi hari.
Dalam 3 tahun 5 bulan ia menyelesaikan apa yang pernah tampak mustahil di titik tergelap perjalanannya. Di balik angka IPK dan predikat terbaik, Arfan tidak lupa dari mana semua ini bermula dan siapa yang menemaninya diam-diam. Doa kedua orang tua yang tak pernah putus. Bahkan, di malam-malam ketika Arfan sendiri hampir berhenti percaya pada dirinya. Sahabat-sahabat yang hadir bukan hanya di foto wisuda tapi di lorong-lorong sunyi sebelumnya.
Ia juga menyebut nama para pembimbingnya dengan tulus Dr. Hj. Fatmawati, M.Si. dan Nur Khaerah, S.IP., M.IP. dua figur yang ia percaya turut membentuk bukan hanya skripsinya, tapi cara ia memandang tanggung jawab akademik.
Arfan Fadillah hari ini bukan semata tentang gelar atau predikat. Ia adalah cermin dari perjalanan yang tidak lurus, tidak bersih dari keraguan, dan tidak selalu diiringi tepuk tangan.
Ia pernah di titik ketika semua pencapaian terasa runtuh sekaligus. Ia pernah mempertanyakan arah hidup di malam-malam yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Ia tidak mengunggah fase itu. Tapi ia melewatinya.
Dan hari ini, dengan toga di bahunya, ia cukup meringkasnya dalam satu kalimat: “Badai tidak pernah lebih besar dari mimpi dan tekad.”
Makassar, 16 Februari 2026
Penulis : Henriono.
pimpinan Redaksi Kabar-satu.com















