Kisah Nyata La Baco di Mario ri Wawo

by -329 views

Kantor kepala Pemerintahan kolonial Takkalala Mario ri Wawo Tahun 1930an

Di Tulis oleh. : Andi Mappesawe Rajid

Suatu Hari di Takkalala Mario ri Wawo pada Bulan Juli Tahun 1959.

Menjelang sore hari perlahan mentari semakin mendekat dibalik cakrawala.

Menebar warna merah jingga membara.

Sangat elok dipandang mata.

Disebuah perkampungan anh tidak seberapa besarnya yaitu Takkalala, merupakan pemukiman sudah cukup tua. Pernah menjadi pusat Pemerintahan kerajaan Mario masa lalu dengan raja atau datu Pertama We Temmapuppu hingga yang terakhir A.Abd.Razak dimana  lebih dikenal dengan nama Datu Sade. 

Bahkan seorang raja yang sangat terkenal terlahir di kampung tersebut, yaitu Arung Palakka lahir di Takkalala, Mario ri Wawo.

Terlihat beberapa anak anak menuntun ternak mereka kembali kekandangnya.

Orang tua juga sibuk membenahi halaman dan kolong rumah mereka. Ternak ternak berupa ayam, bebek, kambing dan lain lainya, dimasukkan kedalam kandang di kolong rumah panggung mereka.

Warga lain juga bergegas membenahi segala sesuatu karena sebentar lagi kegelapan akan menyelimuti perkampungan. Lagi pula keamanan tidak menentu akibat adanya pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah RI.

Pada masa itu, Perumahan Penduduk kearah pasar sentral hanya sampai di sekitar Kantor kecamatan Mario ri Wawo yang sekarang ini. Selebihnya kearah selatan ke pasar Sentral masih berupa hutan hutan.

Demikian juga perumahan penduduk yang kearah bulu dua, hanya sampai di sekitar kantor KUA sekarang ini. Selebihnya masih tanah kosong dengan hutan semak semak.

Suasana semakin temaram menyelimuti perkampungan Takkalala.

Terdengar suara emak emak memanggil anak anak mereka pulang ke rumah.

+ “Baco…Becce, lesunomai nak. Labuni essoe”.

– “Iye indo. Upattujui yolo manue”. Terdengar jawaban anak anak 

Nampak juga kesibukan di masing masing rumah penduduk, yang tengah mempersiapkan lampu penerang  berbahan bakar minyak tanah ,untuk  dipakai pada malam hari. Pada masa itu belum ada listrik.

Ayah La Baco salah satu warga yang juga sibuk mempersiapkan lampu penerangnya. Lampu lampu minyak tanah adalah satu satunya penerangan dimalam hari. Lampu minyak pada masa itu ada yg memakai  tabung kaca disebut lampu semprong buatan China, ini cukup baik karena memiliki cahaya lumayan baik. 

Ada juga lampu tanpa kaca semprong terbuat dari kaleng kaleng bekas susu atau sejenisnya, memakai sumbu dari kain bekas yang apinya  me-liuk liuk terkena hembusan angin. Dan asapnya kadang kadang menghitamkan benda benda disekitarnya, termasuk wajah orang yang ada didekatnya. 

Satu dua penduduk memiliki lampu Gas atau Strongking dengan merk Petromax buatan Inggris. Lampu jenis ini memilik cahayanya sangat terang. Lampu Gas ini yg dipakai warga jika ada hajatan. Lampu penerang jalan belum ada sehingga dimalam hari suasana jalan sangat gelap dan sepi. Tidak ada aktivitas warga di malam hari.

Ibu ibu pun sibuk di dapur memasak di tungku berbahan bakar kayu. Sesekali si ibu meniup api denga menggunakan sepotong bambu bulat pendek agar api tetap menyala.

Terdengar bunyi bedug  dari arah mesjid kecil satu satunya  dimiliki warga Takkalala, disusul suara azan tanpa alat pembesar suara yang dikumandangkan dari menara kayu mesjid, dengan tingginya seukuran rumah lantai dua.

Pada masa itu alat audio belum ada di Takkalala, akibatnya suara azan hanya dapat terdengar disekitar mesjid saja.

La Baco bersama ayahnya bergegas menuju mesjid untuk shalat berjamaah Magrib yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Sepulang dari mesjid ibu sudah menyiapkan makan malam.

 + “Lette manenni mai”.

Si ibu memanggil suami dan anak2nya.

Tak lama, ayah, ibu, Baco dan Becce tengah duduk bersila mengelilingi penganan malam hari dengan penerangan lampu minyak cahayanya agak merah redup.

Bau ikan kering bakar disiram minyak kelapa wangi menebar aroma mengundang selera. Tumis tomat kemangi diberi cabe rawit, tumbukan udang kering dicampur belimbing, tumis kalua diberi udang kering disertai sayur daun kelor sangat nikmat.

 Tak lupa pula ibu Baco membuat tumis ikan kering manggarai. Mereka menyantap makanan dg menggunakan tangan. Makan dengan menggunakan tangan adalahbbudaya masyarakat pada umumnya khususnya di Takkalala.

– “Awwe, indo’na. Lunra’na gammi Manggaraiye”. Kata ayah Baco memuji masakan istrinya.

Nampak pula Baco meng-isap isapkankan lidahnya ke bibir kepedisan.

– “Magotu nak mumangiso iso”. Tanya si ibu.

++ “Sepersekian ladang indo. Liwe pessena gammi2ta indo. Naikiyya massipa indo”.

+ “Aja je natammega muala co”. Ayahnya turut memberi saran. Begitulah suasana kehidupan keluarga La Baco yg nampak harmonis dan bahagia.

Tak lama pesta kecil dari keluarga kecil Baco telah selesai. Mereka nampak puas dg sajian makanan dibuat oleh sang ibu.

++ Indo…iyyappa mabbissa penne. Lokkani lewu2 yolo. Kata Becce kepada ibunya.

– Iyye nak. Jawab ibunya.

Dibawah penerangan lampu berbahan bakar minyak tanah La Baco membuka buku pelajarannya. Walaupun cahaya lampu minyak tidak cukup terang, namun Baco tetap semangat belajar. Terdengar suara La Baco membaca buku pelajaran Bahasa Daerahnya. Suaranya cukup besar.

Yang dibaca adalah buku Wajeng Pajeng (fajar). Karangan La Side.

Isinya begini:

Niga missengngi bolana La Mappa.

Bolana bola awo.

Renring dedde.

Bakkaweng nipa.

Mabbiring salo.

Galung ri monrinna.

Itani ri pattae.

La Baco membaca ber-ulang ulang, agar besok di sekolah bila disuruh oleh guru membaca bisa lancar. 

Terdengar suara Becce menyanyikan lagu lagu perjuangan. Besok ada pelajaran Seni Suara. Di sekolah Becce cukup dikenal pandai bernyanyi dan memiliki suara bagus.

Pada masa awal kemerdekaan RI di banyak daerah, belum ada gedung sekolah. Agar supaya anak anak dapat bersekolah, Pemerintah meminjam kolong rumah penduduk yang agak luas dan memiliki tiang tinggi, untuk dipakai sebagai kelas. Dikolong rumah penduduk itulah murid murid belajar. Seiring dengan kemajuan  dicapai pemerintah satu demi satu gedung sekolah dibangun.

Nampak pula ayah dan ibu Baco duduk ber-bincang bincang berbagai hal hingga sampai masalah keamanan.

– “Akkalitutuki ambona narekko laoki majjama. Karebanna gurillae pede makkasolangngi. Maega tau riyuno”.

Pada masa itu kalau pihak pemberontak menemukan seorang penduduk dan dicurigai sebagai mata mata Pemerintah langsung dieksekusi mati.

++ “Iyye indo’na. Iyyae wennie makalallaing usedding pappeneddikku. Mauseka usedding”.

Ayah La Baco mencurahkan perasaannya kepada istrinya betapa malam ini perasaannya tidak enak. Agak gelisah.

– “Iye ambo’na. Iyya je sitongenna makkutoro usedding. Makalallaing pappeneddikku”.

“Tennapodo de’magaga abala maelo pole”. Kata istrinya yang juga memiliki perasaan yg tidak enak.

Pada masa itu setiap penduduk akan merasa was was  bila malam tiba. Pada masa itu di Takkalala ditempatkan seregu tentara pemerintah yang siap berperang, untuk menjaga keamanan penduduk yang bermarkas di sebelah barat pasar (sekarang berdiri mesjid raya Takkalala).

Malam mulai bergeser larut. Terdengar suara nyaring besi plat yang dipukul dari arah markas tentara 9 kali, berarti sudah pukul 9.  Pada masa itu jam atau arloji adalah merupakan barang langka, sehingga markas tentara memberi tahu masyarakat akan waktu lewat pukulan besi sebagai lonceng yang dibunyikan setiap jam.

Malam itu walaupun sebetulnya belum terlalu larut malam, baru pukul 09.00 namun seperti biasanya sudah tidak ada orang berani keluar rumah. Pada masa itu pukul 10 malam dianggap sudah sangat larut malam. Diluar rumah, dijalan keadaan sangat gelap dan sepi. Tidak ada penerangan. Bulan pun belum menampakkan dirinya. 

– “Lao manenno matinro. Peddeini pajjennangengnge.

Nasarekuammengngi maele moto baja lao massikola”.

++ Iyye indo. Hampir bersamaan Baco Becce menjawab.

Keduanya pun memasuki tempat tidur masing masing yang memakai kelambu sebagai pelindung nyamuk.

Sayup sayup terdengar suara radio milik tetangga yang memakai tenaga baterai.

Pada masa itu satu satu nya warga yang memiliki radio bertenaga baterei yang kebetulan bertetangga dg ayah La Baco. 

Pada saat pemilik radio menghidupkan radionya tetangga pun turut menikmati lagu dan berita dari radio yang dipancarkan dari stasiun radio RRI Makassar atau Jakarta dan dari siaran radio luar Negeri.

Dalam acara  berita pemerintah setiap hari menyerukan kepada pemberontak agar sadar dan kembali kepangkuan ibu pertiwi RI.

Tak lama, keluarga kecil itupun sudah terlelap. Penduduk lainnya pun sudah tidur pulas. Malam diliputi sunyi mencekam. Hanya suara anjing menyalak bersahutan. Sesekali terdengar lolongan anjing seperti menangis memilukan mendirikan bulu tengkuk. Suasana malam itu terasa lain dari biasanya. Selain itu suara sepatu laras tentara yang berpatroli sering terdengar lewat didepan rumah.

Malam semakin larut dengan hawa dingin, tidak terasa waktu subuh tiba.

Terdengar suara beduk dari mesjid tanda waktu shalat subuh tiba. Disusul suara azan dari Puak Doja yang dikumandangkan dari menara kecil mesjid yang memang bertugas mengatur peribadatan di mesjid kecil tersebut.

Beberapa warga berjalan menuju mesjid untuk shalat berjamaah subuh dengan menahan hawa dingin dibawah suasana gelap berbekal lampu senter yang dinyalakan sekali sekali, untuk menghemat pemakaian baterainya.

Kurang lebih pukul 5.30 tiba tiba terdengar suara rentetan tembakan senapan yang memekakkan telinga. Lapangan sepak bola Hikmat sudah dipenuhi pasukan bersenjata pemberontak DI-TII.

Mereka mengambil posisi di sisi barat lapangan Hikmat disekitar pohon  beringin besar (aju colok). Para penyerang menghadapkan moncong senjata kearah barat ke Markas tentara yang berada disebelah barat 

kompleks Pasar Takkalala (sekarang ditempati Mesjid Raya). Mesjid kecil dan sekitarnya sudah diduduki pasukan pemberontak.

Pemberontak bersenjata menyerang Takkalala dari arah timur. 

Sebagaimana diketahui situasi Takkalala pada sebelah timur terdiri dari hutan yang cukup lebat. Sebelah barat terdiri dari persawahan dan tempat terbuka. Sebelah utara dan selatan terdapat jalan raya. Jadi jalan satu satunya bagi  pengacau memasuki Takkalala adalah dari arah timur.

Tak lama kemudian suara tembakan terdengar bersahutan yang datangnya dari pihak tentara. Warga panik. Dibeberapa rumah terdengar erangan meregang nyawa dari warga yang tersambar peluru. Warga sadar telah terjadi serbuan dari gerombolan pengacau yang kala itu hampir menguasai seluruh wilayah pedalaman Sulawesi Selatan.

Suara tembakan senapan semakin ramai dari balasan tembakan tentara yang bertahan di markasnya.

Pertempuran seru pun terjadi 

Nampaknya pihak tentara yang jumlahnya memang tidak cukup banyak, agak kewalahan menghadapi serangan mendadak gerombolan tersebut.

Namun demikian, dengan taktik militer dengan penuh keberanian sejumlah tentara merayap maju kearah timur mendekati lapangan Hikmat dimana pasukan gerombolan mengambil posisi. Terjadi baku tembak dengan hanya diantarai jalan raya.

Namun terjadi kejadian yang tak pernah dibayangkan oleh tentara. Senjata berat otomatis yang disiapkan menghalau pemberontak penyerang  disebut Watermantel tiba tiba macet tidak bisa ditembakkan. 

Dengan terpaksa tentara yang sudah merengsek maju harus mundur kembali ke markas mereka dengan meninggalkan senjata berat Watermantel tidak sempat dibawa.

 Namun sebelum meninggalkan senjata berat tersebut, pasukan tentara sempat mengambil semua amunisi senjata. Kemudian senjata berat yang ditinggalkan oleh tentara beralih ketangan gerombolan, namun tanpa peluru sehingga tidak bisa digunakan.

Keluarga La Baco tak kalah paniknya. Bahkan Becce menangis merangkul ayahnya. Mereka berlarian turun dari rumah panggung mereka untuk mencari tempat berlindung. Mereka bertiarap di selokan yang tak berair dan bertemu dengan warga lainnya.

Terdengar desingan peluru beterbangan mencari sasaran. Terlihat beberapa rumah penduduk dilalap api yang sengaja dibakar oleh pihak gerombolan.

Beberapa warga dipaksa ikut ke hutan bersama gerombolan pemberontak.

Menjelang pukul 11.00 siang setelah gerombolan mengobrak abrik kampung merekapun mengundurkan diri masuk hutan kembali. 

Dalam pertempuran semalam bantuan pasukan tentara dari ibu kota Kabupaten, Watan Soppeng tidak dapat tiba dalam waktu singkat, karena beberapa jembatan di jalan poros Pattojo sudah dihancurkan oleh pemberontak.

Korban di pihak tentara ada yang luka luka. Namun, tidak ada yang sampai tewas. Adapun korban pihak gerombolan pengacau tidak diketahui pasti. Hanya ditemukan jejak jejak darah disekitar Lapangan Sepak Bola Hikmat, Kemungkinan korban dibawa pergi oleh teman temanya.

Setelah kejadian penyerbuan itu seisi kampung berduka yang sangat dalam. Ada beberapa warga ewas dan puluhan rumah hangus terbakar.

Rumah keluarga La Baco pun tidak luput dari kobaran api, habis terbakar.

Hari itu tidak ada sekolah terbuka. Penduduk masih diliputi ketakutan. Warga yang rumahnya habis dilalap api masing masinh sibuk berupaya mencari barang barang yang luput dilalap api.

Beberapa hari kemudian bantuan sosial dari Pemerintah Daerah datang untuk memberi bantuan kepada warga yang  terkena dampak langsung dari kejadian penyerangan.

Pemakaman korban terkena peluru mengharukan. Isak tangis anak anak yang masih kecil tak terbendung.

Warga yang rumahnya musnah dilalap api diberi tempat sementara oleh Pemerintah Daerah.

Sejak peristiwa penyerangan dilakukan oleh kaum pemberontak, terhadap permukiman Takkalala, oleh Pemerintah setempat mewajibkan semua rumah  panggung harus memiliki lubang perlindungan atau bungker dikolong rumah masing masing. 

Lubang perlindungan digali sedalam 1 Meter seluas yang dapat menampung keluarga di rumah masing masing, diberi dinding layaknya sebuah kamar luas. Bungker tersebut untuk mengantisipasi bila ada serangan lagi dari pemberontak.

Menjelang malam hari semua penduduk sudah berada dalam bungker yang beralaskan tikar dan kasur. Disitulah mereka tidur semalaman. Pagi hari baru penduduk berani keluar dari lubang perlindungannya.

Menjelang beberapa bulan kemudian, secara berangsur roda kehidupan penduduk mulai berjalan normal.

Sebelumnya penjagaan dari tentara diperketat dengan menempatkan tambahan puluhan personil tentara.

Didekat pohon besar yang da di samping lapangan sepak bola Hikmat, oleh penduduk setempat disebut Aju Colo, tentara mendirikan menara pengintai dari kayu yg tingginya kurang lebih 70 m.

Di atas menara itu, beberapa personil tentara bertugas menjaga keamanan rakyat. Secara berkala pasukan tentara melakukan patroli disekitar Takkalala.

La Baco, Becce dan anak2 lainnya kembali bersekolah. Penduduk kembali merasa aman karena penjagaan dari tentara.

Kabar selanjutnya setelah puluhan tahun berlalu, La Baco menjadi guru dan kembali mengajar di kampungnya setelah menempuh pendidikan guru pd sekolah guru SPG 109 Watan Soppeng.

Pada tahun yg sama kota Watan Soppeng dapat giliran diserbu oleh kaum pemberontak DITII. Kisahnya lebih seru lagi.

Kurang lebih 5 tahun kemudian pada tahun 1965 pemerintah RI berhasil memadamkan pemberontakan di Sulawesi Selatan. Keadaan menjadi aman. Rakyat sudah bebas beraktifitas, sdh bisa menggarap pertanian mereka yang selama puluhan tahun tidak dapat digarap. Tak ada lagi bunyi mesiu yang dapat memakan korban jiwa manusia. 

Para bekas Anggota gerombolan yang mendapat amnesti dari Pemerintah kembali ke Kampung merekanhidup normal berbaur dengan warga yang pernah mengalami penderitaan, akibat tindakan tindakan mereka. Namun warga yang pernah mengalami trauma akibat tindakan para anggota gerombolan tidak ada suara suara  menaruh dendam kepada bekas gerombolan tersebut. 

 Mereka hidup berdampingan secara damai seperti tidak pernah ada kejadian sebelumnya. Mungkin itulah watak sejati dari rakyat Nusantara yang pemaaf dengan falsafah Panca Sila, Kemanusiaan yang adil dan beradab dan Persatuan Indonesia.

Semoga peristiwa sejarah kelam bangsa Indonesia tidak terulang lagi.

Dengan Panca Sila, rakyat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, golongan dan agama dapat hidup berdampingan dengan damai.

Pertahankan terus Panca Sila.

Selamat Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 77.

Merdeka! (**)