Sumber Daya Manusia, Nilai, Moral, dan Sikap dalam Pendidikan

by -373 views

Oleh : ZH. NURUL KUSUMAWARDHANI,S.A.P., M.Tr.AP
(Dosen STMIK AMIKA Soppeng)
Ketua LPPM STMIK AMIKA Soppeng

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah serangkaian proses belajar yang harus dilalui oleh setiap orang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yaitu terciptanya sumber daya manusia yang kompeten dan sesuai dengan tuntutan pembangunan. Dimana dirinya mempunyai soft skill, hard skill yang baik sesuai dengan apa yang diharapkan oleh lapangan pekerjaan.

Melalui pendidikan tidak hanya membekali dengan materi pelajaran skill saja, tetapi juga menanamkan nilai-nilai dan etika yang juga tidak kalah penting untuk diterapkan dalam dunia kerja. Bukan hanya ditopang oleh ekonomi sebagai modal tetapi sumber daya manusia yang berkualitas sehingga akan membuat pertumbuhan pendidikan dan ekonomi semakin baik karena dari pendidikan pertumbuhan ekonomi bisa diwujudkan melalui sumber daya manusia yang handal.

A. NILAI

Merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya. Nilai merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial untuk membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai suatu yang ingin dicapai. Secara dinamis, nilai dipelajari dari produk sosial dan secara perlahan diinternalisasikan oleh individu ke dalam dirinya serta diterima sebagai milik bersama dengan kelompoknya. Nilai merupakan standar konseptual yang relatif stabil yang secara eksplisit atau implisit membimbing individu dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai serta aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan psikologisnya.

B. MORAL

Istilah moral berasal dari kata Latin “mores” yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat istiadat, atau kebiasaan. Moral pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi. Moral merupakan kaidah norma dan pranata yang mengatur perilaku individu dalam hubungannya dengan kelompok sosial dan masyarakat. Moral merupakan standar baik-buruk yang ditentukan bagi individu oleh nilai-nilai sosial budaya dimana individu tersebut menjadi anggota komunitas sosial. Moralitas merupakan aspek kepribadian yang diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis, adil, dan seimbang. Perilaku moral diperlukan demi terwujudnya kehidupan yang damai penuh keteraturan, ketertiban, dan keharmonisan.

Adapun tahap-tahap perkembangan moral yang sangat dikenal yang dikemukakan oleh Lawrence E. Kohlberg (1995), yakni sebagai berikut:

Prakonvensional

Pada tingkat ini anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk serta benar dan salah.

Tingkat prakonvensional ini memiliki dua tahap, yaitu:

  1. Orientasi hukuman dan kepatuhan

Pada tahap ini, akibat-akibat fisik suatu perbuatan menentukan baik-buruknya tanpa menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat tersebut. Anak hanya semata-mata menghindarkan hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa mempersoalkannya.

  1. Orientasi relativis-instrumental

Pada tahap ini, perbuatan yang dianggap benar adalah perbuatan yang merupakan cara atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dipandang seperti hubungan di pasar yang berorientasi pada untung-rugi. Ini dilukiskan oleh Kohlberg (1995) dengan kalimat: “Jika engkau mau menggarukkan punggungku, maka aku juga akan menggarukkan punggungmu”. Jadi hubungan di sini bukan atas dasar loyalitas, rasa terima kasih, atau keadilan.

Konvensional

Pada tingkat ini anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok, atau msyarakat. Semua itu dipandang sebagai hal yang bernilai dalam dirinya sendiri tanpa mengindahkan akibat yang bakal muncul. Sikap anak bukan saja konformitas terhadap pribadi dan tata tertib sosial, melainkan juga loyal terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung, dan membenarkan seluruh tata tertib itu serta mengidentifiksikan diri dengan orang atau kelompok yang terlibat.

Tingkat konvensional ini memiliki dua tahap, yaitu:

  1. Orientasi kesepakatan antara pribadi atau disebut orientasi “Anak Manis”

Pada tahap ini, perilaku yang dipandang baik adalah yang menyenangkan dan membantu orang lain serta yang disetujui oleh mereka. Terdapat banyak konfirmasi terhadap gambaran stereo tipe mengenai apa itu perilaku mayoritas atau alamiah. Perilaku sering dinilai menurut niatnya sehingga seringkali muncul pikiran dan ucapan “sebenarnya dia bermaksud baik”. Mereka berpandangan bahwa orang akan mendapatkan persetujuan orang lain dengan cara menjadi orang yang baik.

  1. Orientasi hukum dan ketertiban

Pada tahap ini, terdapat orientasi terhadap otoritas, aturan yang tetap, dan penjagaan tata tertib sosial. Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan kewajiban sendiri, menghormati otoritas, dan menjaga tata tertib sosial yang ada. Semua ini dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dalam dirinya.

Pascakonvensional, Otonom, atau Berlandaskan Prinsip

Pada tingkat ini, terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan terlepas pula dari identifikasi diri dengan kelompok tersebut.

Tingkat ini memiliki dua taha, yaitu:

  1. Orientasi kontrak sosial legalitas

Pada tahap ini, individu pada umumnya sangat bernada utilitarian. Artinya, perbuatan yang baik cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan ukuran umum yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh masyarakat. Pada tahap ini juga sudah terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativisme nilai dan pendapat pribadi sesuai relativisme nilai tersebut, terdapat suatu penekanan atas aturan prosedural untuk mencapai kesepakatan, terlepas dari apa yang telah disepakati secara konstitusional dan demokratis, dan hak adalah masalah “nilai” dan “pendapat” pribadi.

  1. Orientasi prinsip etika universal

Pada tahap ini, hak ditentukan oleh keputusan suara batin sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri dan yang mengacu kepada komprehensivitas logis, universitalis, dan konsistensi logis. Prinsip-prinsip ini bersifat abstrak dan etis serta bukan merupakan peraturan moral konkret. Pada dasarnya, inilah prinsip-prinsip universal keadilan, resiprositas, dan persamaan hak azasi manusia, serta rasa hormat kepada manusia sebagai pribadi.

Berdasarkan tingkatan dan tahap-tahap perkembangan moarl itu, kemudian Kohlberg (1995) menerjemahkannya ke dalam motif-motif individu dalam melakukan perbuatan moral. Sesuai dengan tahap-tahap perkembangan moral, maka motif-motif perilaku moral manusia adalah sebagai berikut:

  • Perbuatan moral individu dimotivasi oleh penghindaran terhadap hukuman dan suara hati pada dasarnya merupakan ketakutan irasional terhadap hukuman.
  • Perbuatan moral individu dimotivasi oleh keinginan untuk mendapat ganjaran dan keuntungan.
  • Perbuatan moral individu dimotivasi oleh antisipasi terhadap celaan orang lain, baik, baik yang nyata atau yang dibayangkan secara hipotesis.
  • Perbuatan moral individu dimotivasi oleh antisipasi terhadap celaan yang mendalam karena kegagalan dalam melaksanakan kewajiban dan rasa diri bersalah atas kerugian yang dilakukan terhadap orang lain.
  • Perbuatan moral individu dimotivasi oleh keprihatinan terhadap upaya mempertahankan rasa hormat terhadap orang lain dan masyarakat yang didasarkan atas akal budi dan bukan berdasarkan emosi, keprihatinan terhadap rasa hormat bagi diri sendiri.
  • Perbuatan moral individu dimotivasi oleh keprihatinan terhadap sikap mempersalahkan diri karena melanggar prinsip-prinsipnya sendiri.

C. SIKAP

Sikap adalah predisposisi emosional yang dipelajari untuk merespon secara konsisten terhadap suatu objek. Sikap merupakan variabel latent yang mendasari, mengarahkan, dan mempengaruhi perilaku. Sikap tidak identik dengan respon dalam bentuk perilaku dan tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat disimpulkan dari konsistensi perilaku yang dapat diamati. Secara operasional, sikap dapat diekspresikan dalam bentuk kata-kata atau tindakan yang merupakan respon reaksi dari sikapnya terhadap objek, baik berupa orang, suatu peristiwa, dan lain sebagainya.

Chaplin (1981) mendefinisikan sikap sebagai predisposisi atau kecenderungan yang relatif stabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau bereaksi dengan suatu cara tertentu terhadap orang lain, objek, lembaga, atau persoalan tertentu. Dilihat dari sudut pandang yang agak berbeda, sikap merupakan kecenderungan untuk mereaksi terhadap orang, lembaga, atau peristiwa, baik secara positif maupun negatif. Dalam pada itu, sikap itu secara khas mencakup suatu kecenderungan untuk melakukan klarifikasi dan kategorisasi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seorang remaja memiliki sikap menyenangi suatu kelompok musik tertentu. F4 dari Taiwan atau Sheila On 7 misalnya, maka mereka cenderung akan mereaksi secara menguntungkan terhadap kelompok musik tersebut tanpa memandang karakteristik khas dari mereka selaku individu. Demikiaan juga, seandainya seseorang memiliki sikap menyenangi suatu partai tertentu, PKB atau PKS misanya, maka mereka cenderung akan mereaksi secara menguntungkan terhadap orang-orang dari kedua partai tersebut tanpa memandang karakteristik khas dari mereka selaku individu.

D. KESIMPULAN

Dalam konteksnya dengan hubungan antara nilai, moral, dan sikap adalah bahwa jika ketiganya sudah menyatu dalam super ego dan seseorang telah mampu mengembangkan super egonya dengan baik, maka sikapnya akan cenderung didasarkan atas nilai-nilai luhur dan aturan moral tertentu sehingga akan mewujud dalam perilaku yang bermoral. Ini dapat terjadi karena super ego yang sudah berkembang dengan baik akan mengontrol dorongan-dorongan naluriah dari Id yang bertujuan untuk memenuhi kesenangan dan kepuasan. Berkembangnya super ego dengan baik juga akan mendorong berkembangnya kekuatan ego untuk mengatur dinamika kepribadian antara Id dan super ego sehingga perbuatannya selaras dengan kenyataan di dunia sekelilingnya.

E. KEPUSTAKAAN

Prof. Dr. H. Mohammad Asrori, M.Pd. 2008. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Prima

Prof. Dr. H. Abd. Rahman Getteng. 2014. Menuju Guru Profesional dan Ber-etika. Yogyakarta: Graha Guru Printika

Getteng, Abd. Rahman. 1997. Pendidikan Islam Dalam Pembangunan. Ujung Pandang: Yayasan Akham

Saleh, Abdul Rachman. 2005. Pendidikan Agama dan Pembangunan Watak Bangsa. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada

https://sajiem,iainponegoro.ac.id.V. Manajemen Sumber Daya Manusia. 2021