Metro

Menelusuri Jejak Prostitusi Online di Kota Soppeng

84
×

Menelusuri Jejak Prostitusi Online di Kota Soppeng

Sebarkan artikel ini

Int

KABAR-SATU, SOPPENG – Praktik prostitusi online mulai marak di Kota Soppeng.

Jejak jejak bisnis “lendir” inipun nyaris tak sulit untuk ditemukan.

Para pekerja seks ini memanfaatkan aplikasi media sosial Michat untuk menjalankan aksinya.

Mereka secara terang terangan menjajakan diri.

Mulai dari memasang foto profil sexy, hingga mencantumkan kode khusus jika menyediakan layanan esek esek ini.

Kode tersebut seperti BO, DP, COD, dan No PHP.

Mencoba menelusurinya, kami mengirim ajakan pertemanan ke akun akun yang memasang kode khusus tadi.

Dari puluhan akun yang kami ajak chatting, terdapat dua akun yang menarik perhatian. yaitu akun Yulianti dan Zahra.

Dari akun Yulianti kami ditawari tarif Rp 500 Ribu sekali kencan.

Ketika kami menawar Rp 350 Ribu, Yulianti setuju.

Lokasi pertemuan di kos-kosan yulianti di sebuah gang di Jalan Wijaya, Watangsoppeng.

Kami diminta untuk segera ke sana dan saat sudah didepan kos-kosan dia meminta kami untuk memotret bagian depan kos.

Tak berapa lama seorang wanita menghampiri kami.

Yulianti ternyata bukan nama sebenarnya, foto yang dipasang di akun Michat pun ternyata bukan miliknya.

Namun tetap saja, paras yulianti tidaklah mengecewakan.

Yulianti keberatan saat kami mengatakan hanya ingin wawancara dengannya.

Namun saat diberi penjelasan, yulianti akhirnya mau diwawancara walaupun sangat singkat.

Dari pengakuannya, ia sudah sering menawarkan diri di media sosial, dan kos kosannya merupakan tempatnya untuk melayani pria pria hidung belang tersebut.

“Selain di soppeng, saya juga bekerja di Makassar” ujar yulianti, Senin (24/8/2020).

Lepas dari wawancara dengan yulianti, kami masih mencoba mengorek informasi dari PSK online lain.

Melalui fitur “Pengguna di Sekitar” di Aplikasi Michat, kami mendapati Zahra.

Sama dengan yulianti, Zahra ternyata juga bukan nama sebenarnya dan foto yang dipasang di akun Michatnya bukan foto dirinya.

Zahra memasang tarif Rp 350 Ribu sekali main.

Berbeda dengan yulianti, tranksaksi dengan zahra harus dilakukan melalui perantara seorang mucikari.

Dari mucikari ini kami mendapatkan lokasi pertemuan yakni di sebuah rumah di BTN Lasetang, Watangsoppeng.

Cukup sulit menemukan rumah yang dimaksud zahra, karena rumah tersebut berada di pemukiman padat penduduk.

Ukuran rumah tersebut sangat kecil dan berada terpencil dari rumah lain.

Dari zahra, kami menggali lebih banyak informasi.

Zahra mengaku masih terdaftar sebagai pelajar di salah satu SMA di luar kabupaten soppeng.

Dirinya berada di soppeng karena sekolahnya masih memberlakukan proses belajar secara online.

“Kampung saya memang di soppeng, cuma saya tak sekolah disini” ujar Zahra.

Zahra menyebut sudah lama bekerja sebagai PSK online.

Ia memilih menjalani pekerjaan ini karena kebutuhan hidup.

Selama ini dirinya tinggal menumpang bersama sang pacar, yang sudah mengetahui pekerjaannya.

Sang pacarlah yang terkadang membiayai kebutuhan sehari hari zahra seperti makan minum.

Selama menjalankan praktik prostitusi online ini, zahra menyebut menyerahkan semua proses transaksi kepada mucikarinya yang terlihat masih seumuran dengannya.

Dari tarif Rp 350 Ribu untuk sekali layanan, dirinya akan mendapat Rp 300 Ribu, sementara sang mucikari mendapat Rp 50 Ribu.

“Dia (Mucikari.Red) juga yang menyiapkan tempat, saya hanya datang saat sudah deal harga” ujarnya.

Dalam sehari, zahra mengaku bisa melayani sampai tiga pria hidung belang.

Namun dirinya menyebut selektif dalam memilih tamu yang bisa mengajaknya berkencang.

“Kalau tamunya tidak saya suka, ya saya tolak” ujar zahra. (id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page